Tertangkap Mata
Namanya Winny. Ia adalah Megan Fox dalam circle-ku kala itu. Tahun 2007, tahun dimana Hijaber's belum kesambet ide menggulung, menguncir, melapis dan memelintir kerudung. Tahun dimana aplikasi-aplikasi gadget masih dalam bentuk rumus yang belum diturunkan. Preposisi Hijab dan Gadget, saya maksudkan bahwa kondisi fashion saat itu masih rada-rada kampungan (jika disederetkan dengan saat ini) serta kondisi dialogis dan fokus jika dua orang sedang berbincang tanpa gadget, tentunya sangat berkualitas.
Suatu ketika Winny menelfon saya untuk menemuinya di sebuah kedai kopi salah-satu mall di Makassar. Winny berpesan agar saya datang sendiri. Saat itulah saya mulai curiga. Kenapa harus datang sendiri, coba?
Di perjalanan, saya terus-terusan berpikir-pikir, mengingat-ingat dan bertanya-tanya "kapan terakhir kalinya saya menebarkan pesona dan Winny kecipratan semerbaknya? Pesona yang mana? Jangan-jangan?! Bisa-bisa?! Kalau-kalau?!"
Ah, menyedihkan! Saya baru tahu kalau saya tidak diundang sendiri setelah bertemu dengan Winny di Kedai tersebut. Winny mengatakan bahwa tiga orang lainnya masing-masing sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sengaja Winny memanggil kami satu-persatu agar terbentuk suasana tenteram, damai, tepat sasaran dan irit. Dan ternyata ini adalah panggilan proyek, proyek acara ulang tahun Winny yang -5 hari lagi. Yah, kami jadi EO Ulang Tahun dadakan. Proyek Thank You tentunya.
"Sst... ini undangan senyap!", Winny berbisik, sedikit MENUNDUK.
Terpaku-lah mata saya pada gradasi, putih ke abu-abu yang semakin kebawah semakin gelap. Tepat di belahan dada Winny. Didukung lagi dengan kerah oblong Winny yang menjuntai, tiga leher bisa masuk sekaligus.
Asal tidak out of topic, saya hanya berbicara, menyambung dan menjawab seadanya, sekenanya, sekedarnya saja. Fokus utama saya tidak lagi di proyek ulang tahun. Mata saya sesekali melirik, memandang, menatap daann... mata saya KEDAPATAN, ini temuan. Bukan tertangkap basah atau tertangkap tangan tapi TERTANGKAP MATA.
Winny tertawa kecil sambil mengusap mata saya sambil berkata "Mataaamu!" Lalu saya, seperti tentara yang baru saja ditinggalkan nyawanya.
Dari situlah saya meyakini Winny jauh sangat dewasa.
"Ini bukan pertama kalinya, tapi sudah beberapa kali mendapatkan matamu yang salah fokus. Pernah juga pada wanita yang lain. Kamu harus pintar-pintar, pakai trik berkedip! Ingat, ada juga wanita yang risih dan kehilangan mood saat tahu dipandangi seperti itu. Termasuk saya, sebagian kecil wanita juga begitu. Tapi fokus kami lebih ke postur, lengan dan bahu. Kadang juga jempol kaki. Makanya saya tahu 'trik berkedip' itu!" Pungkas Winny yang sangat menggurui.
Saya mendengar Winny berceramah dengan saksama. Mungkin Winny melihat saya seperti kucing basah yang kepalanya baru saja dipukul pentungan sebanyak tiga kali. Atau keledai yang terbaring lesu dalam kubangan lumpur. AKU KOTORRR!!!
***
Kehadiran 3 orang teman yang lain lumayan mengencerkan amuk pikiran saya saat itu. Tapi saya belum sembuh betul. Mereka memperbincangkan plan, teknis, job, dan budget. Sementara saya kadang masih tersudut dan diam yang sesekali melihat mata Winny yang memandangi saya sambil tersenyum.
Saya berpikir dalam hati "salah saya juga tak pernah mengikutkan mata saya ke Pesantren. Kenapa tak ku congkel saja mata ini? Lalu saya ludahi dan teriak 'KAUUU BUKANNN MILIKKUUU!!!
***
Meeting selesai. Saya yang pertama beres-beres. Saya harus cepat pulang. Ada agenda dadakan baru kali ini. Agenda kontemplasi, pastinya.
Sebelum kami berlima berpisah, Winny mengejar saya di depan pintu. Sambil berjalan berbarengan mengikuti panjang langkah saya, Winny memegang bahu saya sambil berbisik : "saya bisa kasih lebih banyak dari yang tadi, Lho!" Tersenyum kemudian mengambil langkah lebih panjang. Hampir berlari.
Thanks to Winny Putri Lubis, FE USU Angkatan 2011 yang telah menginspirasi.
Makassar, 16 Mei 2016
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih