Breaking News
Loading...
Tuesday, 14 June 2016

Dua Frase 'English' yang Salah Parkir (Frase Endosentrik Atributif)

Komunikasi sering bergantung pada topik internal sekelompok orang pada lingkungannya masing-masing. Dalam lingkungan kerja, orang-orang di dalamnya sibuk membicarakan dinamika kantor mereka. Lingkungan keluarga yang tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga. Serta di kampus dan sekolah yang kebanyakan identik dengan kuliah, tugas, PR, dan buku.   
Beda halnya pada komunikasi dua orang sahabat. Komunikasinya akan terdengar bebas nilai. Topiknyanya banyak dan acak. Dari bernostalgia sampai menyusun cita-cita. Dari urusan percintaan yang di hubung-hubungkan dengan dunia kerja atau dari urusan kerja yang dihubung-hubungkan dengan dunia percintaan. Kadang mengambang, kadang pula sampai di kesimpulan.
***
Identitas sahabat saya yang satu ini harus saya sembunyikan rapat-rapat. Karena saya akan membicarakan tentang aibnya yang lumayan memalukan. Saya kaburkan saja namanya dengan Ajwar. Tapi saya yakin, bagaimanapun saya membongkar aibnya, dia tidak sampai hati akan marah karena bagaimanapun dia adalah sahabat saya. Eitsss... Jangan pernah mempermalukan dia di hadapan saya. Karena saya bisa marah! Meskipun dari banyak alasan orang untuk marah, tidak satupun dari alasan itu yang pantas dibenarkan.  
Oh... iya, sahabat itu terbentuk dari adanya kesamaan. Baik itu kesamaan rasa, kesamaan background, serta kesamaan nasib. Kami adalah orang tersisih dari komunitas besar yang selalunya meng-unggah foto-foto anak mereka dalam grup sosial media, dan berbagi ilmu parenting (yang juga bisa kami baca) sementara kami masih bujang. Kebayang ga tuh? Belum lagi kalau ada yang tiba-tiba nyeleneh “Kapan Nikah?”
Selalu saja ada yang terasa kurang jika tidak melakukan komunikasi dengan Ajwar selama satu minggu. Kami berdua bergantian menelfon, bergantung siapa yang masih punya sisa bonus menelfon (sisa bonus telefon yang diperuntukkan untuk urusan kantor) di malam hari. Berapa menitpun sisa bonus yang ada, selama itu juga kami berkomunikasi (kurangi 1 atau 2 menit sebelum kebablasan). Rugi donk, menghabiskan pulsa hanya untuk menelfon dengan laki-laki.
Awal pembicaraan biasanya di mulai dengan menanyakan kabar. Selanjutnya sharing tentang lingkungan kerja masing-masing. Kemudian membicarakan tentang teman-teman yang lain, biasanya oknum (Ngga ada loe, loe yang diomongin). Curhat dan membicarakan tentang hubungan dengan pasangan biasanya di ahkhir.
***
Tibalah saatnya saya untuk curhat. Ajwar-pun siap-siap memberi krisan (kritik dan saran). Saya menceritakan tentang kedekatan saya dengan seorang wanita yang juga dikenalnya. Sayangnya Ajwar mengenalnya sebagai wanita sosialita yang menurutnya punya jam terbang yang lebih tinggi dibandingkan dengan saya. Padahal bagi saya dia tidak lebih dari wanita biasa meskipun tidak se-biasa itu. Maksud saya, setinggi apapun jam terbang wanita itu, dia masih berada dalam jangkauan saya. Ada satu kesempatan dimana wanita itu mengakui saya banyak sisi kelebihan disbanding dengannya. Ajwar tidak tahu tentang itu dan saya enggan memberitahukannya. Biar Surprise, gitu! Ajwar saat itu ngotot dan menyarankan saya untuk berhenti mengejar wanita itu sampai akhirnya Ajwar berkata “Sudahlah bro, Jangan dipaksa! Jam terbang Aldira Chena terlalu tinggi bagi kamu, dia itu bukan kelasmu. Kalau orang bilang, dia itu ‘High Heels’ “.
“Heh?” Mendengar frase itu, saya memutar otak. Kemudian tersenyum dan berkata “mungkin maksudmu ‘High Class’ bro?”  
“Yaah... itu maksud saya” Jawab Ajwar menimpali.
Terdengar tawa Ajwar dari balik telefon. Mungkin ia menertawai dirinya yang membuat satu frase bahasa inggris jadi salah parkir. Sayapun terpingkal-pingkal dibuatnya.   
***
            Beberapa waktu setelah kejadian di atas, saya menceritakan kejadian di atas pada seorang adik (adik-adikan) saya yang saya temui di salah satu cafe di Makassar. Serunya, ternyata dia juga punya pengalaman yang sama dengan sahabatnya. Pada saat itu, adik saya ini diajak oleh temannya untuk berjalan-jalan. Adik saya menanyakan tujuan jalan-jalannya kepada sahabatnya tersebut. Dalam perjalanan, sahabatnya ini berkata pada adik saya bahwa ternyata sahabatnya itu tidak punya tujuan juga. Tapi adik saya tetap santai, dia mengikut saja kemana sahabatnya itu membawanya.
Sahabat ‘adik’ saya tiba-tiba bilang begini “Ini yang saya suka dari kamu”.
Adik saya kemudian bertanya “kenapa memangnya?”
“Karena kamu orangnya ‘Happy Ending’. Sahabatnya menjawab.
“Maksudnya?”
“Karena kamu asyik diajak kemana-mana” Jawab sahabatnya dengan gaya yang sangat meyakinkan.
“Hah?! Itu maksudnya ‘Easy going!!!’ Teriak adik saya kesal.
***
Belakangan ini, saya dan adik saya bersepakat untuk mengganti maksud High Class menjadi High Heels serta mengganti Easy Going menjadi Happy Ending. Karena bahasa bergantung kesepakatan, meskipun orang lain mendengar rancu. Bodoamat.

Pare-pare, 5 Juni 2016

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih