Dua Frase 'English' yang Salah Parkir (Frase Endosentrik Atributif)
Komunikasi sering bergantung pada topik internal sekelompok
orang pada lingkungannya masing-masing. Dalam lingkungan kerja, orang-orang di
dalamnya sibuk membicarakan dinamika kantor mereka. Lingkungan keluarga yang
tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga. Serta di kampus dan sekolah yang
kebanyakan identik dengan kuliah, tugas, PR, dan buku.
Beda halnya pada komunikasi dua orang sahabat. Komunikasinya
akan terdengar bebas nilai. Topiknyanya banyak dan acak. Dari bernostalgia
sampai menyusun cita-cita. Dari urusan percintaan yang di hubung-hubungkan
dengan dunia kerja atau dari urusan kerja yang dihubung-hubungkan dengan dunia
percintaan. Kadang mengambang, kadang pula sampai di kesimpulan.
***
Identitas sahabat saya yang satu ini harus saya
sembunyikan rapat-rapat. Karena saya akan membicarakan tentang aibnya yang
lumayan memalukan. Saya kaburkan saja namanya dengan Ajwar. Tapi saya yakin,
bagaimanapun saya membongkar aibnya, dia tidak sampai hati akan marah karena
bagaimanapun dia adalah sahabat saya. Eitsss... Jangan pernah mempermalukan dia
di hadapan saya. Karena saya bisa marah! Meskipun dari banyak alasan orang
untuk marah, tidak satupun dari alasan itu yang pantas dibenarkan.
Oh... iya, sahabat itu terbentuk dari adanya kesamaan.
Baik itu kesamaan rasa, kesamaan background, serta kesamaan nasib. Kami adalah orang
tersisih dari komunitas besar yang selalunya meng-unggah foto-foto anak mereka
dalam grup sosial media, dan berbagi ilmu parenting (yang juga bisa kami baca)
sementara kami masih bujang. Kebayang ga tuh? Belum lagi kalau ada yang
tiba-tiba nyeleneh “Kapan Nikah?”
Selalu saja ada yang terasa kurang jika tidak melakukan
komunikasi dengan Ajwar selama satu minggu. Kami berdua bergantian menelfon,
bergantung siapa yang masih punya sisa bonus menelfon (sisa bonus telefon yang
diperuntukkan untuk urusan kantor) di malam hari. Berapa menitpun sisa bonus yang
ada, selama itu juga kami berkomunikasi (kurangi 1 atau 2 menit sebelum
kebablasan). Rugi donk, menghabiskan pulsa hanya untuk menelfon dengan
laki-laki.
Awal pembicaraan biasanya di mulai dengan menanyakan
kabar. Selanjutnya sharing tentang lingkungan kerja masing-masing. Kemudian membicarakan
tentang teman-teman yang lain, biasanya oknum (Ngga ada loe, loe yang
diomongin). Curhat dan membicarakan tentang hubungan dengan pasangan biasanya
di ahkhir.
***
Tibalah saatnya saya untuk curhat. Ajwar-pun siap-siap memberi
krisan (kritik dan saran). Saya menceritakan tentang kedekatan saya dengan
seorang wanita yang juga dikenalnya. Sayangnya Ajwar mengenalnya sebagai wanita
sosialita yang menurutnya punya jam terbang yang lebih tinggi dibandingkan
dengan saya. Padahal bagi saya dia tidak lebih dari wanita biasa meskipun tidak
se-biasa itu. Maksud saya, setinggi apapun jam terbang wanita itu, dia masih
berada dalam jangkauan saya. Ada satu kesempatan dimana wanita itu mengakui
saya banyak sisi kelebihan disbanding dengannya. Ajwar tidak tahu tentang itu
dan saya enggan memberitahukannya. Biar Surprise, gitu! Ajwar saat itu ngotot
dan menyarankan saya untuk berhenti mengejar wanita itu sampai akhirnya Ajwar
berkata “Sudahlah bro, Jangan dipaksa! Jam terbang Aldira Chena terlalu tinggi
bagi kamu, dia itu bukan kelasmu. Kalau orang bilang, dia itu ‘High Heels’ “.
“Heh?” Mendengar frase itu, saya memutar otak. Kemudian
tersenyum dan berkata “mungkin maksudmu ‘High
Class’ bro?”
“Yaah... itu maksud saya” Jawab Ajwar menimpali.
Terdengar tawa Ajwar dari balik telefon. Mungkin ia
menertawai dirinya yang membuat satu frase bahasa inggris jadi salah parkir. Sayapun
terpingkal-pingkal dibuatnya.
***
Beberapa waktu
setelah kejadian di atas, saya menceritakan kejadian di atas pada seorang adik
(adik-adikan) saya yang saya temui di salah satu cafe di Makassar. Serunya,
ternyata dia juga punya pengalaman yang sama dengan sahabatnya. Pada saat itu,
adik saya ini diajak oleh temannya untuk berjalan-jalan. Adik saya menanyakan
tujuan jalan-jalannya kepada sahabatnya tersebut. Dalam perjalanan, sahabatnya
ini berkata pada adik saya bahwa ternyata sahabatnya itu tidak punya tujuan
juga. Tapi adik saya tetap santai, dia mengikut saja kemana sahabatnya itu
membawanya.
Sahabat ‘adik’ saya tiba-tiba bilang begini “Ini yang
saya suka dari kamu”.
Adik saya kemudian bertanya “kenapa memangnya?”
“Karena kamu orangnya ‘Happy Ending’. Sahabatnya menjawab.
“Maksudnya?”
“Karena kamu asyik diajak kemana-mana” Jawab sahabatnya dengan
gaya yang sangat meyakinkan.
“Hah?! Itu maksudnya ‘Easy going!!!’ Teriak adik saya
kesal.
***
Belakangan ini, saya dan adik saya bersepakat untuk
mengganti maksud High Class menjadi High Heels serta mengganti Easy Going
menjadi Happy Ending. Karena bahasa bergantung kesepakatan, meskipun orang lain
mendengar rancu. Bodoamat.

0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih