Absorpsi (dibuang sayang)
Menjadi orang yang dibesarkan di kampung halaman yang jauh dari kota besar, adalah salah satu garis hidup saya yang sangat saya syukuri. Fenomena arus mudik dan arus balik, moment pulang kampung semasa libur panjang dan musim buah, dan hal seru lainnya yang tidak bisa dirasakan oleh kebanyakan orang yang lahir dan dibesarkan di kota besar.
Paragraf pembuka di atas, sebenarnya tidak kontekstual dengan apa yang sebenarnya menjadi inti tulisan saya yang masih kusut di akal saya. Tapi untuk menghapusnya, rasanya sayang. Mungkin judul tulisan ini nantinya adalah "dibuang sayang". Yah, beginilah saya dalam menulis, yang membiarkan semuanya mengalir. Hal ini juga membuat saya semakin sepakat pada statement teman saya yang menagatakan bahwa saya adalah seorang penulis dalam bentuk tulisan essay setelah memperhatikan tulisan-tulisan saya sebelumnya. Sebenarnya saya ingin mengulas tentang beberapa kata yang kemudian diserap berbeda dalam keluarga saya (Mungkin ada di keluarga lain).
Saya terinspirasi dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Saya ingat kalau saya ini seorang pelupa". Di sana saya menuliskan kata "Remot Resiper", yang saat saya membacanya kembali setelah saya publish, menjadi ide untuk mengumpulkan kata-kata yang lain menjadi satu judul tulisan baru. Kalau di antara teman-teman sekalian ada yang beranggapan bahwa tulisan ini tidak penting, tolong berhenti mebacanya dan membaca tulisan saya yang berjudul "The Lounge, dalam kurung Jangan dibikin susah", serta buku Dewi Lestari (DEE) yang berjudul Filosofi Kopi, cukup Chapter "Selagi kau Lelap".
Remot Resiper, untuk menyebut Remote control Satellite Receivere.Pertama kali dipopulerkan oleh ayah saya pada tahun 1996. Waktu itu ayah saya membeli set Parabola untuk menonton beberapa chanel yang sebelumnya cuma TPI dan TVRI Nusantara IV Ujung Pandang (Pukul 06-13.30 program TPI, 15.30-tengah malam program TVRI. kalau kita menonton di antara pukul tersebut, maka kita hanya akan menonton beberapa garis warna vertikal tanpa gradasi dan mendengar suara "Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttt" yang sangat panjang tapi saya persingkat saja).

Emergeng, menyingkat kata Emergency Lantern yang artinya Lampu darurat. Merupakan lampu listrik yang mampu menampung energi listrik pada chargernya setelah proses charging. Khalayak biasanya menyebutnya dengan lampu cas. Khusus untuk Emergeng yang dibeli ayah saya pada kisaran tahun 1994 ini, merupakan alat yang multi-fungsi, ada radio+Tape-nya, ada Sirene-nya, ada senter-nya.
Lemari Bope', Kata ibu saya pada sebuah lemari Buffet berwarna hitam yang ada di ruang keluarga rumah Bonyok saya. Entah kata itu pertama dilafalakan oleh ibu saya atau nenek saya, karena kata Ibu saya Lemari itu sudah ada sebelum ayah dan ibu saya menikah. Setelah saya tahu hal itu "Salah sebut", saya menginfokan pada ibu saya sesegera mungkin. Tapi setelah-setelahnya, ibu saya masih sering menyebutnya dengan Lemari Bope'.

Senso, bukan cuma di keluarga saya tapi sekampung Rea Timur Indah Permai Recidence Regency dan sekitarnya pun menyebut bahwa Chain Saw yang artinya Gergaji Rantai adalah Senso. Bahkan saya sempat bertanya pada beberapa teman-teman yang ada di daerah lain dengan sebutan Senso. Kalau di Palopo dan Selayar katanya menyebutnya Sinso. Sementara Soppeng, Sidrap dan Bone menyebutnya Sensong.
***
Saya tidak pernah mengkultuskan kalau hal di atas adalah keliru. Tapi saya yakin kalau kita konsisten untu membahasakannya pada khalayak maka akan menjadi sebuah peradaban bahasa baru, asal proses dialekis tetap lancar tidak ada yang tersinggung dan tak ada yang tersenggol. Hehe..
Baru-baru ini saya sedang dalam foru diskusi mengatakan "Kalau garis Koordinasi yang dalam papan struktur organisasi, maka tidak ada yang membawahi dan tidak ada yang mengatasi, berbeda dengan garis Instruksional di mana ada yang membawahi dan ada yang mengatasi, gitu loh". Pernah saya membuat sebuah tema kegiatan di salah-satu organisasi saya dengan kata Integritasi tapi tak satupun dari mereka yang melihatnya mencoba untuk mengkritisi. Mungkin mereka berpikir bahwa kata itu ada dalam kamus besar bahasa Indonesia yang berisi Jutaan Kata-kata.
Tahu tidak, kalau sudah banyak orang yang sepakat kalau rambut yang ada di bawah bibir itu namanya "Dan". Yang setahu saya ada alasan mengapa rambut itu bernama "Dan", yakni rambut itu berada di antara kumis dan Jenggot. "Jadi Kumis (sambil menunjuk kumis), Dan (sambil menunjuk rambut itu), Jenggot (sambil memegang Jenggot) dan ketiganya adalah Kumis, Dan, serta Jenggot. Saya salut pada siapapun yang telah berhasil membuat kata itu.
Mari mengingat-ingat, mari berkata-kata, dan mari tertawa-tawa.
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih