Breaking News
Loading...
Monday, 11 July 2011

Saya ingat kalau saya ini adalah seorang pelupa

Beberapa hari yang lalu di sore hari, saya menghubungi salah-satu teman saya via telepon seluler. Di saat saya menunggu telepon saya terhubung, saya mencari sesuatu di saku jeans saya. Tangan kanan pegang HP yang ku lekatkan di samping kuping saya, tangan kiri untuk merabah saku ke mana-mana. Di saku kiri tidak dapat, saku kananpun demikian. Meskipun saya tidak pernah menyimpan Handphone saya di saku belakang, tetap saja ku arahkan tangan ke situ. Berharap saya menyimpannya di tempat yang baru saat itu. Tidak ketemu juga. Saya kemudian berbalik kemudian berjalan menuju  tempat duduk saya sebelumnya. Di saat saya berjalan dengan mimik khawatir, telepon saya kemudian terhubung;
Teman saya : Assalamu alaikum, Halo???
Saya            : Wa Alaikum salam. Di mana posisi nert? (Basa-basi saya karena sibuk mencari HP).
Teman saya : Di jalan. Mau jemput Ifah. Kamu di mana?
Saya            : Sudah sampai di Pak Dani (Lesehan).

Saya kemudian tersadar kalau  ada yang mengganjal. Kuarahkan tangan kanan saya ke depan mata dan  berpikir sejenak. Sekitar dua detik kemudian, mimik khawatir saya berubah menjadi tersenyum lalu memandangi Handphone saya dengan lega. It's mean, saya mencari handphone saya yang dari tadi berada di tangan saya. Hmmm... Akhirnya saya ingat kalau saya ini adalah seorang pelupa.

***
Sekitar sebulan yang lalu di kampung halaman saya, saya sedang berbaring di depan tivi untuk menonton. Kalau saya tidak lupa ingatan, saya menonton talk show "Hitam-Putih" di Trans7. Karena saya tahu kalau keluarga saya suka nonton reality show "Jika Aku Menjadi" di TransTV yang waktu siarnya bertepatan dengan "Hitam-Putih" saya menyembunyikan remote kontrol di bawah bantal. Lama saya menonton, ternyata tidak satupun keluarga saya yang ikut menonton. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Saya menonton sendiri sampai acara "Hitam-Putih" selesai. Saat epilog Hitam-Putih, saya berpikir untuk mengganti program tivi. Saya bangun dan mencari remote controle di meja tivi.Tentunya saya tidak menemukannya. Saya kemudian mengambil jalan pintas yaitu dengan berteriak sekeras semua penghuni rumah orang tua saya mendengarnya "Mana remot resiper (remote digital receiver)?" sambil berbalik ke arah karpet tempat saya berbaring. Mata sayapun tertuju pada bantal dan Uppssss... saya ingat kalau saya ini seorang pelupa.

***
Saya adalah seorang Hiker. Hobi naik dan hunting foto di gunung dan di pantai. Tapi kali ini saya hanya akan menceritakan satu kejadian saat saya ke Bulu' Ramma' (Bukit kecil di Lereng Gunung Bawakaraeng). Saya lupa kejadian ini terjadi di tahun berapa. Yang pasti tidak pernah dalam setahunpun saya tidak menginjakkan kaki saya ke tempat itu  sejak tahun 2004. Bahkan, pernah dalam setahun tiga kali saya ke tempat itu. Saya punya kacamata ray-ban, tapi teman-teman saya lebih sering menyebutnya dengan kacamuka karena bentuknya sangat besar. Karena bentuknya yang unik, teman-teman saya biasa meminjamnya untuk berfoto. Di perjalanan dalam hutan, pandangan akan gelap karena matahari tertutup oleh pohon rindang. Saya yang saat itu menggunakan kacamata ray-ban, serasa berjalan di hutan saat malam hari. Makanya saya mengangkat kacamata saya ke atas ubun-ubun saya. Beberapa jam kemudian, saya dan teman-teman saya sampai di punggungan jurang yang orang-orang sebelum saya menyebutnya dengan Tallung. Tallung memang menjadi tempat favorit untuk berfoto, front groundnya Gunung Bawakaraeng dan banyak hal lain yang tidak ditemukan di gunung lain apalagi di kota Makassar. Karena ingin berfoto, saya tentunya ingin bergaya dengan kacamuka saya. Tapi upps...di mana kacamata saya? Saya kemudian mengingat-ingat untuk mengetahui siapa yang terakhir meminjam kacamuka saya. Meskipun sedikit samar, dengan langkah pasti saya menuju ke salah satu teman saya untuk meminta kacamuka saya. "Heyy...mana kacamataku'?" Tanya saya pada teman saya. Teman saya lalu mengatakan "Itu.... di kepalamu!". "Owh...iyya" kata saya lagi lalu pergi. Dalam hati saya berkata "Akhirnya saya ingat kalau saya ini adalah seorang pelupa.

***

Ada yang tahu Kasus Assalamu Alaikum? Note ke-dua saya di Akun Zulkifli Andi Mandasini. Ada baiknya saya mengulas lagi cerita yang sedikit menggelitik itu.

Saya, Deni, Agung dan Ikmal di sekretariat Himatepa Unhas bersiap-siap menuju Bazar Pencarian dana Untuk salah satu kegiatan Organisasi tingkat jurusan saya. Lokasi Bazar di Red Crisp* yang berada sekitar 2 Kilometer kampus Unhas yang tentunya cukup jauh untuk berjalan kaki. Karena kami ber-empat sementara motor hanya satu, kami memutuskan untuk pergi dengan menggunakan “Pete-pete” (Kalau tidak salah, orang-orang luar sulselbar menyebutnya dengan Metromini atau mikrolet).

Tidak cukup lama menunggu pete-pete, singgahlah pete-pete yang hampir full tapi masih menyisakan sekitar 5 tempat di bagian belakang.
Nah, di antara kami berempat, saya yang pertama naik di atas pete-pete tersebut. Karena Jarangnya naik "pete’-pete", (waktu itu saya masih tinggal di Pondokan Workshop Unhas, hehhe). Pas, menginjakkan kaki ke pintu "pete-pete" dan mengucapkan “Assalamu Alaikum”. Tiba-tiba serentak penumpang pete-pete membalas dengan mengucapkan “Wa Alaikum MusSalam”. Dan saya sadar, ada yang keliru yang saya lakukan (bukan salah). Niat saya "Bismillahirrahmanirrahim", tp yang keluar "Assalamu Alaikum" dari mulut saya.
Setelah seluruh penumpang pete-pete menjawab, saya mencoba memperlihatkan pada mereka bahwa saya tidak melakukan hal keliru. Saya langsung masuk dan duduk di bagian belakang dengan tenang.
Sementara mereka (Deni, Agung, Ikmal) tertawa-tawa di atas pete'-pete', saya sibuk menjaga "Image".
Setelah turun dari "pete-pete", ku bayar dan langsung lari sambil mengeluarkan tawa terbahak-bahak yang dari tadi ku tahan.

****

Itulah beberapa kisah [inspiratifkah?] dari 1001 kisah serupa saya yang tak sempat saya torehkan di sini. Akhir kata, saya ingin mengutip frase salah-satu Kakanda saya, Kanda Umar Jamaluddin '99 yang mengatakan ;
"Terkadang kita lupa bahwa sebenarnya kita ini pelupa".
Kalau tidak salah ingat Sekitar tahun 2007 kalau tidak salah ingat di kediaman bapak Haji Leo, kalau tidak salah ingat di desa Canrego, kalau tidak salah ingat  Belok kiri di samping kantor Polisi Sektor Polobangkeng, kalau tidak salah ingat di Kabupaten Takalar.

Saya yakin di antara teman sekalian pernah atau bahkan sering mengalami kisah serupa. Entah itu kunci rumah, kunci motor, kunci mobil, dompet, cincin, arloji, resleting, rokok, helm, buku, pulpen, jaket, dll. Selamat mengingat-ingat dan selamat mentertawai diri sendiri.

Makassar, 7 Juli 2011.

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih