Breaking News
Loading...
Wednesday, 2 June 2010

rindu malam ini adalah hari itu

Komunikasi yang paling efektif, adalah model komunikasi anak-anak (Fachry said). Membuat terlintas dipikiranku, membuat note yang ku paste dari potongan Novel ku yang belum kelar. Aku rindu pada kampungku, kampung yang dulu, yang asri, dengan suasana kekeluargaan yang kental. Selamat membaca!


Tiba-tiba saja tetangga-tetanggaku ke luar rumah masing-masing dan memandang ke ujung jalan pandangannya. Kejadian ini bukan untuk pertama kalinya di dusunku. Setiap mobil Departemen Penerangan bersirene ditambah kata-kata berbau Pariwara sambil membuang beberapa lembaran brosur ke pinggir jalan dan lewati jalan kilometer lima kota polewali ini, maka hal-hal seperti ini akan terulang. Aku hanya memandang di balik teras rumahku, Sambil ku congakkan kepalaku dan menjinjitkan kakiku untuk menjangkau atas teras yang menghalangi pandanganku.
“Datang dan saksikan, kedatangan Artis Dangdut Ibu Kota Jakarta, Haji Rhoma Irama Besok malam Di Stadion Pare’deang Manding. Sekali lagi, Datang dan saksikan, kedatangan Artis Dangdut Ibu Kota Jakarta, Haji Rhoma Irama Besok malam Di Stadion Pare’deang Manding”, Kata Bapak di atas mobil itu menggunakan microphone. Beberapa pemuda yang ada didusunku berlari memungut selebaran yang sengaja di buang bapak tadi. Ada juga yang mengejar mobilnya dengan menggunakan sepeda buntut mereka.
Sore itu benar-benar menjadi riuh. Orang yang mereka dengar di Radio berDakwah dengan bernyanyi akan datang di kotanya. Belum lagi Rambut Kriting-kribonya yang selalu terpampang di gambar Koran dan Bioskop serta sampul kaset Tape, menjadikan pemuda-pemuda desa seluruh kota kecil Polewali sebagai rambut yang sedang “nge-trend”. Rea Timur, dusun ku yang penduduknya Cuma ada 1 rumah yang ada TV nya dan pemilik tivi (hitam Putih) itu adalah Paman dan Bibiku.
Sampai suara mobil tadi tidak lagi terdengar, aku kembali masuk ke dalam rumah mengikuti Ibuku dari belakang yang sedang hamil 9 Bulan. Aku lupa kakakku pada saat itu sedang melakukan apa! “Etta, LayaL tancap kah?” tanyaku pada Ibuku yang berjalan menuju dapur. “Bukan, itu Rhoma Irama yang mau datang di Manding (aku kenal “Manding” karena nenekku tinggal di situ)” jawab ibuku dengan santai. “kita mau peLgi,Etta?” Tanyaku lagi. “Saya tidak bisa pergi, Adikmu sudah mau dilahirkan” jawab ibuku. Dialog terhenti, mungkin pada saat itu aku tidak tahu lagi apa yang harus kutanyakan, maklum pada saat itu aku baru berumur 4 tahun.
Aku terjaga lagi malam hari, dan mendengar Ayahku pulang bekerja jam 10 malam, ibuku bergegas membuka pinti rumah. Dari balik kelambu, aku mendengar ayah dan Ibuku sedang merencanakan sesuatu. Ayahku berniat ingin ikut menonton langsung Bang Haji Rhoma Irama. Ibuku tidak ingin ikut, mengingat kandungannya yang tak lagi rata dan sudah terlalu buncit.
“Tta, Mau kencing” aku melompat dari ranjang dan membuka pojok jahitan kelambu lalu melompat dari tempat tidur. Sengaja, aku tidak berbicara di depan ayahku lalu meminta ibuku menyalakan lampu di tempatku membuang air kecil. Antara dua papan yang luasnya sekitar 3 cm, yang cukup luas untuk mengarahkan air seniku ke lubang tersebut. Setelah itu baru “Puang, Mau juga ikut nonton Omah nah!”.
Besok sorenya, sore buta aku sudah selasai mandi. Mencari baju baruku dan dapat, sepasang Jaket dan Training yang semua “super hero” berwajah di jaket tersebut. Ternyata bukan hanya aku, kakak ku jauh lebih siap dengan jaket bulu berwarna pink-nya. Jam 7 malam, kami berempat sangat cukup untuk duduk di depan mobil DATSUN 1972. Perkenalkan seorang pemuda saat itu, Sultan, tetangga ku yang memang sering menemani ayahku ke mana saja membawa hasil pertanian untuk di jual.
Aku yang peka pada persenelan mobil yang berada di samping kiri ayahku dan sebelah kananku, pasti, sebelum ayahku menyuruhku untuk bergeser pada saat ingin memasukkan gigi persenelan, aku sudah harus bergeser menjauhinya agar tidak terhalang oleh tangan ayahku. Laju tak kencang mobil menjadi Kebiasaan yang asyik menurutku, bersama kakak menghitung rumah yang punya Antene Televisi dan menyimpulkan bahwa sekian orang kaya di kota ini (yang punya TV).
Tak lama, lampu weser mengarah ke kanan sebelum tepat lorong kecil menuju rumah Paman dan bibiku. Aku kaget, ternyata Ibuku tidak ikut nonton, tapi aku kembali tersadar, ini adalah masa mature ibuku. Hanya sebentar di rumah pamanku, kami melanjutkan untuk turut serta dalam euphoria kota ini.

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih