Persimpangan Terakhir Pangeran Kifli & Putri Haula
Sudah lama Pangeran Kifli tidak berburu Harimau. Hari-hari terakhir ini Pangeran hanya belajar tentang Ilmu Kanuragan milik Baginda Raja (Ayah Pangeran). Dan itu berarti Pangeran tidak lagi pernah berkunjung di Kerajaan tetangga (Bali Arung, bahasa Bugus red.). Dan tidak lagi pernah bertemu dengan tunangannya, Putri Haula (Putri Raja Tetangga). Untuk berburu, Pangeran melewati Tanah Kekuasaan Ayahanda Putri Haula. Kemudian menyusuri Hutan untuk berburu Harimau.
Saat ini Pangeran Kifli benar-benar sibuk, sampai-sampai pujaan hatinyapun ia kesampingkan. Tapi Pangeran tetap mengingatnya. Pangeran masih mengingat dengan jelas pertemuan terakhir yang berakhir dengan kemarahan Putri karena canda Pangeran yang berlebihan. Begitu murkanya, Pangeran meminta maafpun tidak di hiraukannya. Putri hanya berlari menuju Kaputren sambil menangis tanpa sepengetahuan Kanjeng Ratu (Ibunda Putri Haula)
Saat itu pangeran sangat merasa bersalah. Ia mendatangi kerajaan dengan hasrat menemui Sang Putri itu dan meminta maaf. Akan tetapi Pangeran hanya bertemu dengan Patih Bewara di perjalanan menuju istana. Patih Berkata bahwa Putri Haula sedang tak ingin diganggu. Pangeranpun pulang dan berkata dalam hati “Sebelum-sebelumnya, Aku juga sering mengejek dengan menyebutnya “Cadel”, tapi entah saat itu. Mungkin saja saat itu dia Haid, sehingga dia sensi (Sensitif) pada apapun yang ia tidak sukai pada saat itu” Heeaaa….(menyentakkan kedua tumitnya pada perut kuda agar kuda putih yang ditumpanginya berlari dengan kencang).
Sesampai di Istana, Pangeran bertemu dengan Hulubalang dan menanyakan di mana keberadaan Ayahnya. Hulubalang berkata “Baginda sedang berada di Menara bersama Kanjeng Ratu, Pangeran. Ada apa gerangan mencari Baginda, Tuan Pangeran?” Hulubalang kembali bertanya. Karena Kesal dengan keadaan sebelumnya, Pangeran berkata “Suka-suka saya dong, dia itukan Ayahku. Seandainya dia ayahmu maka kamulah yang akan menjadi Pangeran” dengan nada yang tinggi. Sementara hulubalang tertunduk, Pangeran bergegas pergi menuju Sang Raja.
Sesampainya di tempat Raja, Pangeran langsung meminta agar ayahnya meminang Putri Haula. Namun kata Raja menasehati agar mendalami ilmu yang diajarkan ayahnya terlebih dahulu. Nanti pada saat pangerang sudah khatam pada ilmu-ilmu warisan Raja. “Jangankan meminang Putri Haula, Tahta kerajaan akan kupersembahkan padamu Nak”. ungkapan Bijak Raja pada Anak Laki-laki sulungnya.
“Ayah, bukan menjadi raja yang aku inginkan, tapi menjadi ayah dari anak-anak Putri Haula”. Aku mencintainya, Ayah. Lebih dari tahta yang ayah janjikan, lebih dari harta yang yang Ayah sembahkan. Leb…….!!!!
Tiba-tiba saja Pangeran berhenti berkata. Matanya tertuju pada burung merpati yang terbang menghampiri Istananya. Seperti biasa, Pangeran dan raja beradu keterampilan memanah. Kebiasaan ini mulai sejak Pangeran beranjak dewasa. “SSSSSsssseppp”,Pangeran duluan memanah, dan hampir saja mengenai sayap. Sang raja tersenyum dan dengan santai mengambil anak panah dan membidik merpati putih itu. “SSSSSsssseppp”, dan tepat mengenai dada merpati. Merpati tersebut jatuh dihadapan salah satu prajurit kerajaan. Sepucuk surat tergulung dengan benang rajutan sutera di bawa Prajurit menuju Raja. Raja tersenyum sambil mengambil surat yang ada ditangan Prajurit yang tertunduk bertekuk lutut di hadapan Raja dengan kedua tangan sejajar dengan ubun-ubun.
to Be cOntiuned………….
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih