Persimpangan Terakhir Pangeran Kifli & Putri Haula II (Sebuah Sekuel)
Membaca surat itu, banyak kerutan di wajah sang Raja. Kemudian memandang ke arah pangeran dengan mimik penuh rasa ingin tahu.
“Surat apa gerangan yang membuat ayah menjadi kaku untuk memegang dan membacanya” tanya Pangeran?
“Ini Surat untuk ku, dari kampung hulu”. Jawab Raja sambil berbalik dan pergi meninggalkan keramaian yang tentunya membuat orang di ruang itu bertanya-tanya.
***
Di Kaputren, Sang Putri termenung, pandangannya kosong pada pelita yang tertancap kokoh di sudut pagar kayu hitam, suara Gamelan dan dawai yang indah hanya berlalu lalang di pendengarannya. Tampakan seorang bidadari yang tengah duduk di troposfer dengan dinginnya embun mengkristal karena sejuknya.
Melihat anaknya yang seakan sedang Bimbang, Ratu datang dan berharap akan menjadi tempat curahan hati bagi anaknya.
“Ada apa denganmu, nak? Seharian ini kamu hanya termenung hampa. Kamu sakit nak? Atau kamu berpikir pada anak Raja Johor yang datang di pertengahan ufuk timur matahari” Ratu memulai pembicaraan yang santun pada anaknya.
Tanpa berbalik, Putri terus saja memandangi pelita itu dan berkata “Ibu, Bukan Johor, Raja Johor, dan anak Raja Johor yang aku pikirkan Ibu, tapi karena itu, aku memikirkan Pangeran Kifli, aku merasa bersalah pada mood ku. Saat itu aku sedang kehilangan mood sehingga bertemu pun aku tak ingin. Seolah akulah yang paling benar dan dia pemilik dosa. Dan karena mood ku, aku berkata pada Ibu dan Ayah bahwa aku setuju pada pinangan Pangeran Khalid (Anak Raja Johor) yang tak pernah ku kenal sebelumnya”. Aku khawatir kalau saja berita itu membuatnya bersedih dan murka pada Kerajaan Johor. Meski ku tahu, dia tak se-ke-kanak-kanakan itu.
“Anakku, kamu t’lah tahu, kamu akan dipersunting oleh Pangeran Khalid di lima purnama nanti. Namun, Ayahmu tak akan menerimanya bila kamu tak akan merasa bahagia dengannya. Sebentar lagi, Dia akan datang untuk berkenalan dengan mu. Oh, iya, jangan khawatir pada pangeran Kifli, Tadi Patih Berawa membuat surat untuk kerajaan Malaka.
Dalam surat itu, berisi pemberitahuan tentang kedatangan Kerajaan Johor untuk meminangmu. Ayahmu meminta untuk memaklumi keadaan ini, dan tetap bijak dalam memandang masalah ini. Raja Malaka juga sudah mengirim surat balik bahwa keadaan baik-baik saja. Beliau bahagia mendengar berita ini. Itu berarti Pangeran Kifli tidak akan murka pada apa yang terjadi”.
Mendengar hal itu, Putri Haula seakan tersayat. Tapi itulah yang ia dengarkan. Putri Haula tidak mau larut pada kesedihan itu. Ia berbalik dan memeluk Ibunya dan berkata “Aku menyayangimu Ibu”.
***
Perbincangan sengit terjadi antara Raja Malaka dengan Hulubalangnya. Tentang isi surat yang belum diketahui oleh Pangeran Kifli.
“Sebaiknya Baginda memberitahukan hal ini pada Pangeran, karena Pangeran akan sangat marah ketika mendengar berita ini setelah pernikahan itu?” Seru Hulubalang dengan sangat penuh dengan kekhawatiran.
“Aku akan memberitahukan hal ini ketika ia sudah mempelajari dan khatam Ilmu Filsafat Islam yang sedang ia pelajari sekarang” itu akan sangat bermanfaat baginya dan ketika ia mengetahuinya, dia akan menyelesaikannya sendiri. Lagipula ia masih labil saat-saat ini. ketika hal ini ia ketahui, maka kekhawatiranmu akan teraktual”. Jawab Raja dengan Pasti
***
Di perpustakaan Kerajaan, begitu banyak buku Filsafat islam berjajar dengan rapi. Pangeran yang duduk sambil berdiskusi dengan Syech Fachry Al Husaini (Seorang saudagar yang sengaja datang ke Indonesia untuk mengajarkan Islam dengan berbalut sebagai seorang Pedagang). Diskusi kadang diselingi oleh curahan hati Pangeran Kifli tentang kecintaannya pada Putri Haula.
to be continued…..
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih