Bandung III: Kelucuan TOEFL, Wihara, dan Logat Sunda
Berangkat dari Bogor menuju Bandung dengan menggunakan angkutan umum
sungguh tidak pernah saya pahami. Meski sudah dua kali ke Bandung sebelumnya, saya
berangkatnya dari Jakarta, Itupun dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dengan
begitu, saya masih sangat asing dengan terminal Baranangsiang di Bogor dan
terminal Leuwi Panjang di Bandung. Olehnya, saya menyerahkan diri saya
sepenuhnya pada Sahruni yang memang sengaja meminta saya untuk menemaninya
berangkat ke Bandung untuk keperluan kantornya.
Yang membuat perjalanan ini seolah perjalanan petualangan karena Sahruni
juga tidak begitu paham dan hanya dengan modal google saja. Dari sinilah ‘the journey, not the destination’ (Frase
yang disebutkan Cinta pada saya kala itu di Yogyakarta) itu dimulai.
Perjalanan dari
Bogor menuju Bandung via tol Cipularang saat itu tidak terkendala karena air lancar, ombat bagus dan tidak
bikin mabut. Nanti setelah berada di
ujung tol dekat terminal Leuwi Panjang, Sahruni sudah mulai sibuk searching. Perkiraannya tepat, kita
memang sebaiknya turun di perempatan jalan sebelum bus masuk terminal dengan
bejibunan kondektur dan angkot yang nge-temp.
Oh... iya, tempat yang kami tuju pertama kali adalah Sabuga (Sasana Budaya
Ganesha). Kami mengejar waktu sebelum jam pulang kantor karena sekali lagi ini
urusan kantor.
“Dari sini kita
cari angkot jurusan terminal Kalapa. Angkotnya warna kuning hijau (di langit
yang biru. K) ”. Kata Sahruni menjelaskan ke
saya, sesuai petunjuk google search.
Kamipun memperhatikan tiap simpang perempatan yang dilewati
oleh angkot warna biru.
“Di sana!”, teriak saya puas (seolah telah menemukan
jalan menuju harta karun) sambil menunjuk ke seberang jalan. ß Yang ini sebenarnya improvisasi.
Setelah tiba di terminal Kalapa, kami kembali menaiki
angkot Kalapa - Dago. Kali ini warna angkotnya hijau-orange. Saat itu kami
meminta supir angkot agar diturunkan di Ganesha. Kami khawatir kelewat dan
membuat kami berjalan kaki. Kan Panas! Terkondisikan saat itu jam pulang
sekolah dan kuliah, pasti bisa dibayangkan teduhnya naik angkot dengan
pemandangan Mojang Bandung. Tapi
Sahruni saat itu tidak macam-macam. Dan
karena Sahruni sudah memiliki istri dan anak, saya saja yang setiap kali ada
wanita cantik yang naik di angkot yang kami tumpangi, Saya selalu bilang “Masha
Allah”. “Masha Allah, ada lagi.” “Masha Allah, lebih cantik.” “Masha Allah dia
duduk di samping saya.” Saat itu saya seperti sedang bertasbih, sampai
kami tidak sadar kalau angkot kami ternyata telah melewati Sabuga sejauh kurang
lebih 200 meter.
Tiba di Sabuga, kami segera mencari ruangan tempat
pembelian alat pertanian yang ingin di pesan Kantor Sahruni yang setelah kami
temukan ternyata kantornya sudah tutup dan tidak melayani lagi sampai esok
harinya. Mau tidak mau urusan tertunda sampai esok hari.
Perjalanan selanjutnya adalah mencari hotel dengan tarif
murah-meriah (spesifikasi harganya dibawah 200 ribu/malam). Kami memulainya di
lapangan Gasibu (tepat di depan gedung Sate) jl. Diponegoro. Kemudian jalan ke arah
timur dan mencari di jalan Trunojoyo. Sesekali kami singgah berfoto dan kembali
melanjutkan perjalanan. Karena sudah begitu sore dan Sahruni sudah cukup
kelelahan, singgahlah kami sebentar di sebuah kedai kopi pinggir jalan.
Tertulis di spanduk kedai kopi itu “Ngopi heula di dieu”. Mungkin itu nama
kedainya K. Setelah meminum kopi, kami kembali
melanjutkan pencarian. Saat itu saya juga sudah mulai drop. Tapi capek kami sedikit terobati karena Sahruni tiba-tiba
berkata “Nah itu ada hotel!” Saya pun menoleh ke arah yang Sahruni tunjuk, akan
tetapi kami kembali lesu karena ternyata plang yang dibaca Sahruni dengan ‘HOTEL’
ternyata bukan hotel, melainkan ‘TOEFL’. Tapi dengan kekeliruan itu, menjadi
lelucon dan bahan tertawaan kami berdua.
Di simpang jalan Trunojoyo dan jalan Juanda, giliran
saya telah menemukan wisma dari kejauhan dan menunjukkannya pada Sahruni.
Beberapa langkah ke arah wisma yang saya maksud, tiba-tiba Sahruni berkata
bahwa sayapun telah kecapean dan akhirnya salah baca. Ternyata yang saya baca tadi
dengan WISMA bukanlah wisma, melainkan WIHARA. Kamipun akhirnya menyimpulkan
bahwa kami benar-benar telah lobet total.
Dari jalan Juanda kami belok ke jalan RE. Martadinata.
Sesuai petunjuk google map, di jalan ini terdapat banyak hotel. Akan tetapi tarif
hotelnya di atas budget yang
mengharuskan kami melanjutkan perjalanan dan mencari yang lain. Kami menyisir
jalan RE. Martadinata. Sesekali kami beristirahat sambil berfoto. Salah satunya
di depan Warung Misbar. Warung yang sering ditayangkan di tivi karena desainnya
eksteriornya yang unik (menyerupai bioskop jaman dulu). Beberapa langkah
setelah beristirahat, kami menanyakan penginapan kepada salah satu pejalan kaki
yang lalu di hadapan kami. Kampipun mendapatkan petunjuk bahwa terdapat sebuah
wisma tidak jauh dari tempat kami saat itu. Kamipun tiba di sebuah wisma di
sudut jalan Banda dan jalan Ambon. Namanya Wisma Nova. Tidak banyak cerita saat
kami tiba di penginapan itu. Kami hanya mandi kemudian tertidur karena sangat
kelelahan.
Esok harinya, kami kembali menuju Sabuga dengan
menggunakan angkot. Karena pengalaman bertanya ke orang-orang lebih jitu dibanding
harus mencari di google, dan karena
sehari sebelumya (saat perjalanan dari Sabuga ke Gasibu) kami sempat salah naik
angkot, saya kemudian memberanikan diri untuk bertanya dahulu kepada supir
angkotnya. Saya ketiban ide untuk bertanya dengan logat dan bahasa Sunda,
karena khawatir supir angkot asal angkut saja asak kami bayar. Saya bertanya
dengan warna angkot yang sama membawa kami ke dari Sabuga hari sebelumnya.
“Ka Sabuga akang?” Tanya saya pada supir angkot yang
singgah, dengan menggunakan logat dan bahasa Sunda.
Mendengar pertanyaan saya, Supir angkot itupun menjawab
(dengan menggunakan bahasa Sunda) “$^&#%%**@ *@%#$^@@ (sambil menunjuk ke
jalan seberang) *^@***@^ ((@@@ )@#^^$%^ (sambil menunjuk ke arah berlawanan
lagi) *&^%#&&#* #^$%%@%%^@&&* **&#%#@ (*&$%#%#
%!^^@&&$ (menunjuk ke arah jalan yang ada di sebelah kiri).
Saya tertegun dan menelan liur mendengar supir angkot
itu berbicara panjang lebar yang tidak satupun katanya tidak bisa saya
terjemahkan. Sesekali saya hanya menjawan “Nuhun” di sela-sela kalimatnya. “
Nuhun... Nuhun Kang.” Kemudian saya berbalik ke arah Sahruni yang tertawa
terbahak-bahak dan berkata, “Begitu kalau orang sotta (Sok tahu).
Tapi dengan penjelasan Supir angkot tadi saya rada-rada
paham dengan bahasa tubuhnya. Maksudnya kurang lebih seperti ini, “Sebaiknya
anda menunggunya di seberang jalan untuk mempersingkat waktu anda. Karena kalau
menunggu di sini, angkot akan keliling dulu meskipun nantinya akan lewat ke
Sabuga juga. Tapi kalau mau yang lebih singkat, sebaiknya menunggunya di jalan
yang sebelah kiri ini”. Makanya kami berjalan sampai mendapatkan perempatan dan
ke arah kiri sambil menunggu angkot yang lewat.
Esok harinya saya menemani Sahruni ke Pool Travel
Cipaganti yang membawanya ke Bandara Soekarno - Hatta. Kami berpisah di pool
itu, karena saya masih ada agenda jalan-jalan di kota Bandung selama seminggu
lagi. Untuk cerita perjalanan selanjutnya akan saya share di lain waktu.






