Breaking News
Loading...
Thursday, 16 June 2016

Bandung III: Kelucuan TOEFL, Wihara, dan Logat Sunda

            Berangkat dari Bogor menuju Bandung dengan menggunakan angkutan umum sungguh tidak pernah saya pahami. Meski sudah dua kali ke Bandung sebelumnya, saya berangkatnya dari Jakarta, Itupun dengan menggunakan kendaraan pribadi. Dengan begitu, saya masih sangat asing dengan terminal Baranangsiang di Bogor dan terminal Leuwi Panjang di Bandung. Olehnya, saya menyerahkan diri saya sepenuhnya pada Sahruni yang memang sengaja meminta saya untuk menemaninya berangkat ke Bandung untuk keperluan kantornya.  Yang membuat perjalanan ini seolah perjalanan petualangan karena Sahruni juga tidak begitu paham dan hanya dengan modal google saja. Dari sinilah ‘the journey, not the destination’ (Frase yang disebutkan Cinta pada saya kala itu di Yogyakarta) itu dimulai.
            Perjalanan dari Bogor menuju Bandung via tol Cipularang saat itu tidak terkendala karena air lancar, ombat bagus dan tidak bikin mabut.  Nanti setelah berada di ujung tol dekat terminal Leuwi Panjang, Sahruni sudah mulai sibuk searching. Perkiraannya tepat, kita memang sebaiknya turun di perempatan jalan sebelum bus masuk terminal dengan bejibunan kondektur dan angkot yang nge-temp. Oh... iya, tempat yang kami tuju pertama kali adalah Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). Kami mengejar waktu sebelum jam pulang kantor karena sekali lagi ini urusan kantor.
            “Dari sini kita cari angkot jurusan terminal Kalapa. Angkotnya warna kuning hijau (di langit yang biru. K) ”. Kata Sahruni menjelaskan ke saya, sesuai petunjuk google search.
Kamipun memperhatikan tiap simpang perempatan yang dilewati oleh angkot warna biru.
“Di sana!”, teriak saya puas (seolah telah menemukan jalan menuju harta karun) sambil menunjuk ke seberang jalan. ß Yang ini sebenarnya improvisasi.
Setelah tiba di terminal Kalapa, kami kembali menaiki angkot Kalapa - Dago. Kali ini warna angkotnya hijau-orange. Saat itu kami meminta supir angkot agar diturunkan di Ganesha. Kami khawatir kelewat dan membuat kami berjalan kaki. Kan Panas! Terkondisikan saat itu jam pulang sekolah dan kuliah, pasti bisa dibayangkan teduhnya naik angkot dengan pemandangan Mojang Bandung. Tapi Sahruni saat itu tidak macam-macam.  Dan karena Sahruni sudah memiliki istri dan anak, saya saja yang setiap kali ada wanita cantik yang naik di angkot yang kami tumpangi, Saya selalu bilang “Masha Allah”. “Masha Allah, ada lagi.” “Masha Allah, lebih cantik.” “Masha Allah dia duduk di samping saya.”   Saat itu saya seperti sedang bertasbih, sampai kami tidak sadar kalau angkot kami ternyata telah melewati Sabuga sejauh kurang lebih 200 meter.
Tiba di Sabuga, kami segera mencari ruangan tempat pembelian alat pertanian yang ingin di pesan Kantor Sahruni yang setelah kami temukan ternyata kantornya sudah tutup dan tidak melayani lagi sampai esok harinya. Mau tidak mau urusan tertunda sampai esok hari.
Perjalanan selanjutnya adalah mencari hotel dengan tarif murah-meriah (spesifikasi harganya dibawah 200 ribu/malam). Kami memulainya di lapangan Gasibu (tepat di depan gedung Sate) jl. Diponegoro. Kemudian jalan ke arah timur dan mencari di jalan Trunojoyo. Sesekali kami singgah berfoto dan kembali melanjutkan perjalanan. Karena sudah begitu sore dan Sahruni sudah cukup kelelahan, singgahlah kami sebentar di sebuah kedai kopi pinggir jalan. Tertulis di spanduk kedai kopi itu “Ngopi heula di dieu”. Mungkin itu nama kedainya K. Setelah meminum kopi, kami kembali melanjutkan pencarian. Saat itu saya juga sudah mulai drop. Tapi capek kami sedikit terobati karena Sahruni tiba-tiba berkata “Nah itu ada hotel!” Saya pun menoleh ke arah yang Sahruni tunjuk, akan tetapi kami kembali lesu karena ternyata plang yang dibaca Sahruni dengan ‘HOTEL’ ternyata bukan hotel, melainkan ‘TOEFL’. Tapi dengan kekeliruan itu, menjadi lelucon dan bahan tertawaan kami berdua.
Di simpang jalan Trunojoyo dan jalan Juanda, giliran saya telah menemukan wisma dari kejauhan dan menunjukkannya pada Sahruni. Beberapa langkah ke arah wisma yang saya maksud, tiba-tiba Sahruni berkata bahwa sayapun telah kecapean dan akhirnya salah baca. Ternyata yang saya baca tadi dengan WISMA bukanlah wisma, melainkan WIHARA. Kamipun akhirnya menyimpulkan bahwa kami benar-benar telah lobet total.
Dari jalan Juanda kami belok ke jalan RE. Martadinata. Sesuai petunjuk google map, di jalan ini terdapat banyak hotel. Akan tetapi tarif hotelnya di atas budget yang mengharuskan kami melanjutkan perjalanan dan mencari yang lain. Kami menyisir jalan RE. Martadinata. Sesekali kami beristirahat sambil berfoto. Salah satunya di depan Warung Misbar. Warung yang sering ditayangkan di tivi karena desainnya eksteriornya yang unik (menyerupai bioskop jaman dulu). Beberapa langkah setelah beristirahat, kami menanyakan penginapan kepada salah satu pejalan kaki yang lalu di hadapan kami. Kampipun mendapatkan petunjuk bahwa terdapat sebuah wisma tidak jauh dari tempat kami saat itu. Kamipun tiba di sebuah wisma di sudut jalan Banda dan jalan Ambon. Namanya Wisma Nova. Tidak banyak cerita saat kami tiba di penginapan itu. Kami hanya mandi kemudian tertidur karena sangat kelelahan.
Esok harinya, kami kembali menuju Sabuga dengan menggunakan angkot. Karena pengalaman bertanya ke orang-orang lebih jitu dibanding harus mencari di google, dan karena sehari sebelumya (saat perjalanan dari Sabuga ke Gasibu) kami sempat salah naik angkot, saya kemudian memberanikan diri untuk bertanya dahulu kepada supir angkotnya. Saya ketiban ide untuk bertanya dengan logat dan bahasa Sunda, karena khawatir supir angkot asal angkut saja asak kami bayar. Saya bertanya dengan warna angkot yang sama membawa kami ke dari Sabuga hari sebelumnya.  
“Ka Sabuga akang?” Tanya saya pada supir angkot yang singgah, dengan menggunakan logat dan bahasa Sunda.
Mendengar pertanyaan saya, Supir angkot itupun menjawab (dengan menggunakan bahasa Sunda) “$^&#%%**@ *@%#$^@@ (sambil menunjuk ke jalan seberang) *^@***@^ ((@@@ )@#^^$%^ (sambil menunjuk ke arah berlawanan lagi) *&^%#&&#* #^$%%@%%^@&&* **&#%#@ (*&$%#%# %!^^@&&$ (menunjuk ke arah jalan yang ada di sebelah kiri).
Saya tertegun dan menelan liur mendengar supir angkot itu berbicara panjang lebar yang tidak satupun katanya tidak bisa saya terjemahkan. Sesekali saya hanya menjawan “Nuhun” di sela-sela kalimatnya. “ Nuhun... Nuhun Kang.” Kemudian saya berbalik ke arah Sahruni yang tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Begitu kalau orang sotta (Sok tahu).
Tapi dengan penjelasan Supir angkot tadi saya rada-rada paham dengan bahasa tubuhnya. Maksudnya kurang lebih seperti ini, “Sebaiknya anda menunggunya di seberang jalan untuk mempersingkat waktu anda. Karena kalau menunggu di sini, angkot akan keliling dulu meskipun nantinya akan lewat ke Sabuga juga. Tapi kalau mau yang lebih singkat, sebaiknya menunggunya di jalan yang sebelah kiri ini”. Makanya kami berjalan sampai mendapatkan perempatan dan ke arah kiri sambil menunggu angkot yang lewat.
          Esok harinya saya menemani Sahruni ke Pool Travel Cipaganti yang membawanya ke Bandara Soekarno - Hatta. Kami berpisah di pool itu, karena saya masih ada agenda jalan-jalan di kota Bandung selama seminggu lagi. Untuk cerita perjalanan selanjutnya akan saya share di lain waktu.

 

Next
This is the most recent post.
Older Post

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih