Breaking News
Loading...
Monday, 14 March 2016

Perjalanan 'apes' Seorang Pangeran


Sengaja, motor yang kukendarai berjalan lambat. Aku tak ingin gamis yang kukenakan menjadi lusuh karena terpaan angin dan debu. Aku sengaja tak mengenakan jaket, biar ketahuan kalau aku shalat di jalan dan meniatkan perilaku syiar juga tentunya. Luruskan niatnya, lambatkan motornya, luruskan niatnya, lambatkan motornya. AKU SEDANG BERSELANCAR.
Empat puluh lima menit di perjalanan, tibalah aku di sebuah perumahan (bersubsidi kayaknya) standar sesuai alamat yang ia infokan padaku. Tinggal spot rumah-nya saja yang masih membingungkan. Tapi tidak! Tidak untuk menelfon dan minta dituntun untuk sampai ke rumahnya. Aku tak ingin terdengar bodoh hanya untuk dituntun belok kiri-kanannya. Bukankah perjalanan memaknai akan tersimpan di memori ketika kita mendapatkannya tanpa bertanya dan dituntun?INI PERJALANAN PANGERAN.
Setengah jam berlalu, hanya berkeliling perumahan dan belum juga kutemukan rumah itu. Tiba-tiba telfonku berbunyi, ternyata telfon dari dia.
"Assalamu Alaikum kak, di mana maki?"
"Iye, ada ma' dalam perumahan ta' de'. Tunggu mi, mau mi sampai ini". Jawaban sekaligus penjelasan yang mantap.
"Kita yang pakai motor matic putih?"
"Iye".
"Oohh... dua kali maki' lewat depan rumah. Balik ki'! ada ka' di belakang ta'. Kenapa tidak nelfon ki'? Atau miskol ma' saja.
Segera, aku berbalik dan melihatnya sedang melambai padaku. Berat rasanya mengendarai motor yang hanya sekitar 50 meter ke arahnya. Yang berat itu beban pikiranku yang membayangkan kalau dia berkata dalam hati "seorang BODOH, LUSUH, yang tak PUNYA PULSA datang kepadaku".

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih