(Karena) Kurang Satu Penyangga (SAJA/LAGI) : Petani Kangkung dan Bahteranya.
Landskep tepian danau di sebuah negri "Ada Tong", beberapa Bukit seolah bayi yang saling beradu tinggi dengan pohon-pohon Reranaunya. Di belakang bukit, lancip gunung tertutup awan melukis hijau dengan gradasi putih dan birunya langit. Sungguh menjadi landskep yang indah bagi seorang Petani Kangkung dengan mencari ikan sebagai side-jobnya.Hari ini, bukan waktu yang tepat untuk memetik Kangkung. Sudah 6 hari belakangan ini dari pagi sampai pertengahan hari hanya memetik Kangkung. Yah, mungkin ketika hari ini memetik Kangkung, hanya bisa memetik akarnya saja. Petani ini tidak ingin pensiun dini hanya karena melakukan hal bodoh hari ini.
Petani memulai side jobnya dengan menarik sampan ke tepi danau. Sebelum melangkahkan kaki kanannya ke atas sampan, basmalah dan beberapa do'a singkat ia lafalkan. Berharap mendapatkan ikan yang banyak hari ini. Perlahan ia mengangkat ujung pukatnya. Sudah sepertiga pukat yang ia tanam, hanya ada ikan kecil yang menyangkut di pukat tersebut. Sampai akhirnya ia di pangkal pukatnya dan hanya mendapatkan satu ikan yang lumayan besar. Ikan itu kemudian ia masukkan ke dalam ember bersama ikan yang kecil tadi. Seperti biasanya ketika ia hanya mendapatkan sedikit ikan besar, ia mengitari danau tersebut sambil mengucek air danau dengan gayungnya agar ikan bisa berenang ke daerah pukatnya. Kalau ia hanya sedikit mendapatkan ikan yang besar, maka ikan yang kecil tidak ia lepaskan. Tapi kalau ikan besar cukup untuk dijual dan beberapa untuk dimakan, ikan kecil ia turunkan kembali di danau tersebut.
Ia mengangkat pukat yang ke-dua kalinya dari ujung. Lumayan, belum sampai seperdua perjalanan, ia sudah mendapatkan 16 ekor ikan yang besar. Seketika ia berhenti dan menurunkan kembali pukatnya. Ia bergegas ke tengah danau untuk melepaskan ikan-ikan kecil tadi untuk masa depannya. Belum sampai di tengah danau, bunyi mengerikan terdengar di kupingnya, "Preeeet". Ia melihat sekelilingnya, mencari seseorang yang meniup peluit. Tapi tak satupun orang di sekitar danau dilihatnya.
Ternyata bunyi tersebut adalah bunyi yang bersumber dari sampannya sendiri, bambu yang sudah lapuk tepat di tengah sampannya. Parahnya, tidak cuma satu, tapi ada 6 bambu sampan yang patah, bagian tengah pula (di tengah danau pula). Ia mencoba menahan nafas Agar sampannya tetap seimbang. Ia belum berani untuk mengayuh gayungnya meski telah berada di tengah danau.Sedikit demi sedikit ia mengikat bambu yang patah tadi dengan bajunya, meski tak cukup dianggapnya kuat, ia berharap dapat sampai ke tepi danau dengan selamat dan menyelamatkan 16 ekor ikannya.
Setelah ia merasa bahwa sampannya layak untuk dikendarai, perlahan ia mengayuh agar sampan setengah peyotnya sampai di tepi danau. Tetapi, yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya. Sampannya, rusak, dan ikatannya terlepas, ikannya jatuh ke danau setelah sebelumnya ia kecebur duluan, Sampan yang tadi, tak lagi menyerupai sampan, tapi beberapa bambu sepanjang 2 meter berserakan di tengah danau.
"Hufft", kepalanya muncul dipermukaan danau kemudian tangan kanannya menyusul dengan ember yang dipegangnya, ia kemudia melihat ember tersebut berisi air tanpa ikan lagi. "Hah,,,sial", lalu berenang ke tepi danau dengan embernya. Ia kembali ke rumahnya tanpa membawa seekor ikanpun.
Esok harinya, ia kembali ke danau untuk memetik kangkung, tapi alangkah kagetnya, ia melihat beberapa pohon besar tumbang tidak jauh dari danau tersebut. Ia baru mengingat bahwa semalam angin memang sangat kencang. Ia kemudian menghitung pohon yang tumbang tersebut. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tak cukup lama berpikir ia kembali ke rumahnya untuk mengambil sebilah kapak dan gergaji. Beberapa sisi pohon ia jadikan sebagai papan dan lainnya sebagai balok.
Hal itu mungkin sedikit melupakan rutinitas kesehariannya. Sampai senja, ia masih sangat asyik memotong dan menggergaji pohon-pohon tersebut dan berhenti setelah hari sudah gelap. Esok harinya ia membawa karung tempat kangkungnya, Tapi hari ini dalam karung tersebut, terdapat gergaji dan kapak. Ia berencana untuk memetik kangkung sampai tengah hari kemudian memotong dan menggergaji pohon lagi sampai petang. Hari berikutnya, semua pohon yang tumbang beberapa hari sebelumnya, ia angkat sampai ke tepi danau.
Ia kemudian membuat rangka di secarik kertas, terlihat sketsa sebuah bahtera di kertas tersebut. Di bagian bawah sketsa bahtera, beberapa angka dan tanda hitung sederhana ia tulis dengan saksama. Sampai akhirnya, jadilah sebuah bahtera yang cukup mewah di tepi danau tengah hutan.
_____________________________________________________________________________________
Lanjutan Cerpen ini akan di upload besoknya-besok lusa, pagi-pagi sekali Sebelum mandi ka'.
2 jam ji kuterbitkan, Baru kuhapusmi.
Don't miss it, jangan sampe ketinggalan.
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih