Love At The First Chat
Sungguh alami, seperti tangis seorang bayi yang lahir dari Ibu seorang Pelacur bersuamikan Perampok yang telah menyatakan diri untuk menjadi “Khalifatan Fill Ardh” pada Penciptaya. Fitrahwi, layaknya jakun yang naik-turun di leher Susilo Bambang Yudhoyono saat meminum air putih di Cikeas.
Dia Ayu, lucu, baik, Sholehah, dan Punya masa depan yang baik (subjektifku), yakin tidak meleset. Kedua orang tuaku pernah melihatnya, berbicara langsung dengannya, bahkan telah akrab dalam telepon seluler di Hari Raya Idul Fitri yang lalu. Itu karena Saya masih ada hubungan Keluarga dengannya.
Suatu Hari, Kedua Orang tuaku bersama beberapa keluarga dari Ibu saya ingin berziarah ke Makam Kakeknya (kakek saya juga tentunya). Itupun Pengalaman Pertama mereka untuk berziarah ke Makam tersebut. Karena pengalaman pertama, mereka harus mencari petunjuk dari keluarga yang masih tinggal di daerah sekitar pemakaman kakek ku tersebut. Ada beberapa Rumah keluarga yang mereka singgahi tapi yang wellcome cuma 1 Seorang Petani dan Peternak sapi yang beberapa Anaknya sudah sukses di Jawa dan Kalimantan (ini menurut Ibuku). Beliaulah yang mengantar Beberapa orang keluargaku ke Pemakaman kakek moyang ku tersebut.
Sebelum ku tahu kejadian di atas. Saya di Undang dalam Grup Facebook “Keluarga Besar Andi Mandasini, Arung Patimpeng, Panglima Kerajaan Bulo-bulo, Bone”. Nama akunku Waktu itu, Zulkifli Andi Mandasini, nama pamku Terkondisikan sama dengan Nama tersebut. Itu karena Kakekku memberikan Nama anak terakhirnya dari nama Kakeknya. Saya bergabung di grup tersebut dan menjadi Anggota ke 9 waktu itu. Ku preteli Grup tersebut, tidak ada yang menarik. Tidak ada komentar yang kutinggalkan di Grup tersebut selain menjadi salah satu anggotanya.
Beberapa bulan kemudian, iseng membuka grup tersebut, dan ternyata beberapa orang sudah menjadi Anggota juga (sekarang sudah lebih 90 orang bergabung di grup tersebut). Saya mencoba memperkenalkan diri dan alur sisilah di Keluarga besar tersebut. Nah, dari sinilah saya Menambahkan Sumarni (salah-satu anggota grup) tersebut.
Dua hari kemudian Ia mengonfirmasi permintaan pertemananku. Dan menulis di Wall akunku “Thanks 4 Add” ditambahkan dengan smiley Senyum di akhir kalimatnya. Malam berikutnya akupun mengomentarinya dengan mengatakan “U’r Wellcom, Nice 2 Know U”. Hanya sekitar 2 menit komentarku terkirim, Ia membalasnya dengan “Nice 2 Know U 2”. Tanpa pikir panjang, kuperiksa daftar temanku yang sedang On Line. Ternyata betul, Ia sedang On Line menggunakan PC. Akupun memulai chat dengan obrolan yang berawal dari perkenalan yang santai.
Malam Di Sekretariat Himatepa UH lagi. Main Facebook, dia memulai Chat di Chat boxku. Yah Perkenalan yang santai. Terkondisikan dia pada saat itu menjadi tentor di sebuah lembaga kursus bersama teman kuliahku yang sudah selesai. Hal itupun menjadi bahan pembicaraan. Lama membicarakan tentang temanku dan temannya juga, dia beralih menanyakan asal daerahku. Kutulis, dia kemudian menjelaskan bahwa ada Keluarganya yang pernah ke rumahnya untuk diantar berziarah Ke Makam Kakeknya dan namanya Juga sama dengan nama kakeknya. Pada saat bersamaan Ayahku menelepon dan menanyakan kabarku. Pada saat bersamaan (chating dan menelepon) saya mencoba menyambung cerita dari keduanya dan ternyata betul dia anak dari Peternak Sukses (versi ayahku)itu. Sementara versi Ibuku yang muncul katanya merampas ponsel Ayahku, berkata bahwa Anaknya baik, Malebbi' (Ayu/Sopan). Hmmm, kolot, Kedua orang tuaku bilang jangan dulu pikir menikah, nanti setelah sukses. Tapi mereka respect.
Tidak ada salam dan salam balik, dia off line, memang karena jaringannya yang tidak mendukung. “Yah, tak apalah,..masih tetap sedikit santai. Kan bisa dilanjutkan di lain kesempatan, Her not go anyway n will be back! Tapi, mungkin awal (atau akhir) yang menyedihkan sekitar 2 bulan dia tidak pernah On Line lagi! Pikirku, saya mengulangi kesalahan yang sama.
Sebuah anugerah, ternyata dia on line sekitar pukul 14.00. (stiap hari kah??)Tapi sungguh bahagia itu datang, langsung menanyakan kabar orang tuanya di kampung, begitu juga dia sebaliknya. (Mungkin) tanpa pikir panjang dia menanyakan "jangan-jangan yang ke rumah saya waktu itu adalah orang tua saya" dan saya Jawab "iyya, waktu itu pas saya jelaskan dia langsung off line".
Pembicaraan kuanggap semakin intim, dia menjelaskan bahwa dia menyimpan nomor ponsel Ayah saya. “Hmm, jalan lurus mendapatkan nomor ponsel” kataku dalam Hati. Kuminta, dia bilang "aduh jangang sampai suka Mistcall, padahal semua orang yang kenal saya tahu, saya paling tidak suka berbuat yang tidak berguna itu. Setelah memberikan nomor hpnya, langsung ku hubungi dan memberikan nomor yg satuku yang juga aktif. Harapanku, dia berpikir bahwa saya punya 2 ponsel GSM. padahal saya cuma punya 1 tapi Dual GSM. Ku ajak jalan ke Kedaiku dan cafe temanku (tempat tinggal saya)dia bilang, saat ini saya tidak bisa jalan ke mana-mana! Justru dia mengajakku ke Rumahnya. Dia tidak menjawab waktu ku tanyakan kenapa dia tidak bisa jalan! Itu membuatku sedikit penasaran.
Cinta pada Chating pertama. Awalanya, aku berpikir bahwa ini adalah hal yang kolot. Mungkin karena sebelumnya aku harus mencintai seorang wanita setelah lama aku kenali dan lama kupandangi. Sementara dengan Sumarni, aku bahkan belum tahu nada suaranya dengan jelas karena komunikasi mereka hanya lewat telepon sejenak dan cuma sekali pada saat memberi nomor ponselku setelah Ia mengirim nomor ponselnya di Chatbox ku. Dua hari setelah chating bersamanya, ku buka akun facebooknya. Beberapa temannya, memberi komentar "selamat tinggal".
“Risau” grand issue yang begitu merisaukan. Kata yang seakan ingin memotong kakiku, melumpuhkan jalanku menuju jawaban yang akan ku genggam di depan pelupuk mataku yang gelap. Realita yang menyakitkan atau menyenangkang atau hanya bayang ilusi yang menjadi mimpi burukku yang sebelumnya menjadi mawar mekar di padang hijau mimpi indahku.
Patut ku syukuri adanya FB Seluler dalam konteks ini. Setelah agak lama absen di chat boxku, ku perhatikan Statusx sering ter-update. Ku tanya, Yolanda?? Iapun menjelaskan bahwa dia sedang berada di kapal Boat menuju Nunukan dari Tarakan. Sebuah jawaban yang memenuhi tanda Tanya di kepalaku. Ke sana mendaftarkan diri mengaktualkan dirinya menjadi seorang “pengabdi” di sebuah pulau yang sangat kecil d perbatasan Indonesia Malaysia. Tapi masih milik Indonesia (meskipun si negeri maling memang pernah mencaplok sebagai bagian dari negaranya). Sebatik, Pulau terluar Pulau Nunukan Kalimantan Timur.
Perang komentar Status, formulasi baru proses pedekate-ku yang baru, dan memang fastly dan sangat ku nikmati, beberapa komentarnya memang (subjektifku) mengarah dari sekedar teman FB. Status Fesbuknya ku preteli dengan sedikit lawakan dan Imajinasi, begitupun sebaliknya.Sampai suatu saat di pagi buta, “Absen subuh di Facebook” ku toreh untuk statusku. Beberapa temanku mengomentarinya dengan menulis “hadir, Pak”.Kemudian dia muncul dengan pertanyaan “ternyata ada juga absensi di FB?”, ku jawab: iya, pantesan Absennya bolong-bolong. Berlanjut sampai dia berkomentar bahwa imajinasiku bagus, dan menyarankan untuk menjadi seorang penulis atau apalah yang berhubungan dengan itu.
Hmmm, sedikit bangga. Tapi tidak hanya sampai di situ, “hahay,,,jadi malu. Btw, kalau tidak salah, sebulan lalu, ku tulis status fesbukku seperti ini : bersamaan dengan ini, kuputuskan untuk menjadi penulis novel, terinspirasi setelah baca “Negeri 5 Menara” dan “The Host” (sok Up 2 date). Ohh, 1 more : Proses perkenalan kita (aku dan dia) yang ku anggap beda, ku tulis dalam sebuah cerita (FB untuk silaturrahmi yang tertunda)”, Jawabku membuatnya salut dan penasaran untuk tahu alamat blogku.
Ekspresif, jauh mengalahkan Christiano Ronaldo, Leonel Messi, dan Ricardo Kaka saat mengapresiasikan kebahagiaannya setelah mencetak Goal. Teriakan yang keras, sampai-sampai saya pernah lupa bahwa saya berada di lantai 2 yang lantai 1 adalah Cafe dengan yang pada saat itu lagi banyak-banyaknya pelanggan, sehingga temanku harus naik ke Lantai 2 hanya untuk mengarahkan telunjuknya secara Vertikal di tengah bibirnya lalu mengeluarkan suara "Ssssstt".
Menulis kata-kata di Status Pesbukku dengan kata-kata yang mengarah (nyinggung, tp tdk kasar) padanya, tak lama kemudian ada pemberitahuan "Sumarni mengomentari status Anda" Mataku menangkap, kemudian mengumpannya ke Saraf Motorikku untuk di Dribbling ke bekerja sama dengan Saraf Konektorku dan membawa ke Akalku.
Yeeeeeeeeeeeaaaaaaaaaahhhhhhh,,,,,melompat, mengangkat kedua tangan dan berlari.
Persetan teman-temanku bilang "Ngapako Kifli??? Gilako?" Kadang-kadang ada yang datang melihat Laptopku, dan melihat ternyata saya tidak sedang bermain poker, dan hanya melihat akun Profil Pesbukku yang berwarna dominan putih dengan sedikit berwarna biru, lalu pergi lagi dan mungkin sambil berkata "Stress" dalam hati.
Saya butuh sekitar 2 menit untuk mengapresiasikan kegembiraanku meskipun hanya dengan pemberitahuan itu, masalah Komentarnya menyenangkan atau mengecewakan, itu belakangan. Kuanggap, Kalau Komentarnya menyenangkan, berarti Goalku adalah goal Cantik,,,namun ketika komentarnya biasa-biasa saja, artinya saya mencetak goal dari bola muntah.
Intimnya Perang komentar Status, tidak begitu sinkron dengan keadaan yang tergariskan olehNya. Dia lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pinggiran negeri Sultan Fachri itu yang mengartikan bahwa dia akan menjadi seorang penduduk tetap pulau kecil itu. Aku belum tahu tapak kakikua akan ku langkahkan. Pun ketika aku harus ikut arusnya, proses dekonstruksi cita-cita menjadi program pertamaku.
Saat ini, serasa ingin menulis kisah singkat yang sangat mengonstruksi pola hidupku dalam bentuk cerpen. Dan jika suatu saat, cerita ini ku ikutkan dalam sebuah lomba cerpen dan akhirnya menang, Aku ingin Ia tahu perasaanku yang sebenarnya. Jika memang jalan ini lurus-lurus saja, akan kulanjutkan menuliskan kisah hidupku bersamanya dalam sebuah Novel.

Ippy cerita mu sebenarx lumayan, tp tulisanx kecil amat... kesulitan k baca sampai selesai.... ^^
ReplyDelete