Breaking News
Loading...
Monday, 8 March 2010

fb jilid 3

Sedikit kata untuk berjuta makna, sedikit sapa untuk seribu ekspresi, dan seuntai salam untuk semua harapan. Ikhtiar kita untuk Maha Kehendak dan Maha Mengaturnya, Mencipta untuk menyayangNya. Melihat, mendengar dan memikirkan untuk MensyukuriNya. Ahamdulillahi Rabbil Alamin.
Kalau mematematiskan, salah satu do’aku membuatku bertemu dengannya. Setelah memintaku untuk berdo’a agar segala urusannya menjadi mudah, menjadi ranum. Dia kembali ke Sulawesi setelah merampungkan berkasnya. Malam-malamku menjadi sangat panjang untuk bertemu secara langsung dengannya, bukan 24 jam menjadi 25 dan seterusnya, tapi malam sebelum tidurku harus kuluangkan membayangkan “jika aku benar-benar telah bertemu dengannya”.
Suddenly, kaget dengan menulis didinding Facebookku “Bahwa dia ingin ke Polman (Rumahku) untuk makan rambutan. Entah dia dapat kabar dari mana. Tapi ternyata setelah kutanyakan, ternyata dia masih berada di Nunukan. Tapi dia tetap mengAminkan untuk bias berkunjung ke Rumah Orang tuaku. Dia hanya berpesan untuk tetap mendo’akannya.
Sedikit tersandung, kapal yang ditumpanginya hanya berlabuh sampai pelabuhan Pare-pare (bukan Makassar) dan Langsung menuju kampung halamannya tanpa ke Makassar terlebih dahulu (memangnya saya sepenting apa, sehingga harus ke Makassar dulu hanya untuk menemuiku, Epenkah??)
Malam-malam yang seperti sebelumnya ku lalui dengan biasa-biasa saja, sampai kita saling mengirim pesan lewat Facebok tentang keadaan kami. Pada saat itu saya sedang berada di kampung halaman saya juga. Dia kembali dengan harapan-harapan yang harus memikirkannya. “Wah, asyikx ngumpul2 I wish I could be there”, padahal aku paling berharap “If u could be here with me”.
Jalan camba yang terjal berkelok-kelok, kupandang jalan lurus. Ke Soppeng lewat Camba untuk menjenguk temanku 4 hari sebelumnya mengalami kecelakaan. Sekitar ½ Jam di pertigaan Lapri Bone, ku sempatkan diri untuk meng-SMSnya bahwa saya sedang berada di Bone, tepatnya di Lapri. Kutanyakan jarak dari tempatku ke rumahnya, namun tidak dibalas pada saat itu, ternyata Sms yang ku Jaringan yang lambat mengirim pesan saya tersebut (tapi lebih baik, dari pada lewat Pos). Diapun membalasnya setelah saya tiba di Soppeng. Saya menjanji untuk dating besoknya setelah pulang
“belum pernah ku ukur ;) “, lalu ku balas “yah ukur dulu”, dia balas lagi “ kirim meterannya ke sini dulu. “Sekitar 35 kilometer dari Lapri, jadi kan, besok ke sini??” “InsyaAllah, besok sore jam 5” jawabku. Besoknya, Jam 5 kami masih berada di Lejja. Parah. Gelisah, dan ku harap hanya molor maksimal 2 jam, tapi orang tua temanku yang sakit berharap kami berangkat setelah makan malam. 6,7,8, 9, sudah molor 4 jam dan kami belum juga pamit. Pukul 22.30, setengah sebelas malam kami tiba dengan berbagai dialektis pesimis teman-temanku, karena tidak satupun orang yang tahu jalan menuju ke sana. Telepon dia, yang lain telepon teman yang lain untuk dapat petunjuk jalannya. Jalan sempit, tanpa lampu jalan dan pemukiman yang tidak ramai.
Dia mencoba menjelaskan urutan-urutan daerah yang harus di lalui untuk sampai di tempat itu, BERHASIL, kami sampai di Desa Masago dengan selamat. Aku menghubunginya lagi untuk bertanya model rumah, kiri atau sebelah kanan dari arahku. Namun jawabannya “Jalan saja, sebelah kanan ada ayahku yang menunggu dipinggir jalan”. Merepotkan….

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih