SAMSAT CS di Antara Kita
Di sebuah restoran
kecil di kota makassar sebelum Matahari terbenam. Terlihat seorang wanita yang
hampir menghabiskan 2 gelas juice Mangga. Sambil mengutak-atik tablet miliknya.
Tiba-tiba seorang pria bergegas datang mendekatinya.
Baso’ : “ededeh…banyak sekali
urusanku di SAMSAT, ini lagi masih menumpuk baru sa tinggalkan”, sambil menarik
kursi dan buru-buru duduk berharap Tenri tidak kecewa dengan keterlambatannya.
Tenri’ : “Kenapa paeng datang ki’
kalau masih banyak urusan ta’?” Seolah-olah santai, padahal paham betul ini
diluar agenda pembicaraan sebenarnya.
Baso’ : “Supaya kita tau
kalau kita jauh lebih penting dari sekedar pekerjaanku”.
Tenri’ : “Loh, terus kenapa
pekerjaanta’ jadi alasan? Tapi sudah mi kak (Senyum)”.
Baso’ : “kupikir itumi fakta
yang paling masuk akal untuk kita terima”.
Tenri’ : “yang masuk diakalku
sekarang, kita membandingkan antara saya dengan kerjaanta’. Masalah yang mana
paling penting saya tidak tahu. Mungkin suatu saat saya akan tahu, kalau suatu
saat itu juga kita masih membandingkan antara saya dengan kerjaanta”.
Baso’ : “Yang mau
digarisbawahi, bukan kerjaanku yang kubandingkan dengan kita, itupun kalau kita
yang pandang begitu. Yang kubandingkan adalah, antara ada kita di dekatku
dengan kita jauh dari saya. Itu esensinya de’. Sekarang menurutta’, yang mana
yang bikin nyamanka’, ada kita di dekatku’ atau kita jauh dari saya? Kalau kita
bisa jawab itu, kupikir itumi kesimpulannya.”
Tenri’ : “Jadi saya Tanya mi
ki’ ini? Trus kita jawabmi bilang “Saya ada di dekat ta’”, trus saya senang.
Dan kita lega. Tidak asyik kakaa’….abege sekaaali.”
Baso’ : “Kalo gitu jangan
miki’ bertanya! Ujungnya kan tidak asyik jie”.
Tenri’ : “habis mi kah
pembenaran ta’? Baru kali iniiii….”
Baso’ : “Terlalu materil
kurasa kalau pembenaran de’, menurutku’ tidak pas itu kata-kata”.
Tenri’ : “Kita mi bikin
sendiri, saya tetap anggap sebagai pembenaran”.
Baso’ : “hmm…nanti kita
bertanya baru saya cari kata yang pas”.
Tenri’ : “Tapi tidak begitu
berharap jie ki’ saya bertanya tentang sesuatu yang tidak asyik itu kan”.
Baso’ : “Sebaiknya saya tidak
berharap”.
Tenri’ : “Kalau saya tanyakan
artinya tidak baik donk?”
Baso’ : “Tidak baiknya adalah
kita buang-buang energy”.
Tenri’ : “Sepertinya energy
sudah terlalu menjadi hal yang materil”.
Baso’ : “Sorry, hari ini
banyak energy ta’ terbuang karena saya”.
Tenri’ : “hmmm… di maafkan ga’
yaach? Energy ku digantikan ga’ yah? Dipungut ga’ yahh?”
Baso’ : “Sorry-ku adalah
Sorry Low Profile”.
Tenri’ : “Wuiihhh… Low
Profile-nya ini coowok. Hahahaa….”
Baso’ : “Tapi tidak
konstruktif jie untuk hubungan kita toh?”
Tenri’ : “Hah?”
Baso’ : “iya?”
Tenri : “Kenapa kita larinya
ke situ?”
Baso’ : “Salahkah kalau
sejauh ini saya kembali menanyakan?”
Tenri’ : “Indikasinya?”
Baso’ : “Hari ini.”
Tenri’ : “Apa bedanya hari ini
dengan kemarin? Yang beda itu Cuma hari ini SAMSAT, kemarin REKTORAT, mungkin
besok Kantor PAJAK, lusa di BANK, besoknya Lusa mungkin di KANTOR POLISI. Kita
hampir setiap harinya begini, berdebat tentang sesuatu yang tidak konstruktif, tapi
kenapa baru ditanyakan?”
Baso’ : “Kalau memang SAMSAT
dan kawan-kawan tidak kita terima mestinya kita belajar untuk terima itu”.
Tenri’ : “Kita pikir saya yang
dari tadi duduk di sini tidak mentolerir SAMSAT cs? Waaahhh…”
Baso’ : “Ini SAMSAT Cs yang
tidak asyik. Bisa-bisanya dia nimbrung di kita’.”
Tenri’ : “Ituuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu’….
Arrrrgh..”
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih