Maggolla Ini Cess?!
Akhir-akhir ini, ada (tidak banyak) diantara teman-teman saya yang bertanya dan menyerukan tulisan dari saya yang baru untuk di-publish di note FB dan di-share/tag pada mereka (hal ini tidak perlu dipandang berlebihan). Entah ini adalah bentuk maggolla atau bukan, saya mengambil sisi positifnya saja yaitu bukan maggolla. Saya tetap berharap bahwa tulisan-tulisan singkat saya di note FB bisa bermanfaat untuk siapapun yang membacanya.
Mungkin terlalu jauh ketika saya bermimpi untuk bisa seperti Dewi “DEE”
Lestari yang katanya tulisan-tulisannya sudah punya ruang tersendiri di
hati terdalam para DeeLicious/DeeLovers. Melihat beberapa teman dekat
saya saja senyum atau bahkan tertawa terpingkal-pingkal membaca note
saya pun telah membuat saya bahagia. Jangankan hal itu, ketika tulisan
saya sudah bisa menjadi wadah transformasi pengetahuan saja saya sudah
sangat bersyukur. Toh, ketika melihat tulisan saya di sini maupun di
blog dan di page saya, kemudian yang tanggapan setelah membacanya adalah
“ZAM is Annoying facebooker, ZAM is amateur writer, ZAM tidak cocok
jadi penulis dan cocoknya kerja di air, ZAM tidak cocok jadi penulis,
bagusnya Cuma jadi Menteri Pertahanan & Keamanan (tuing-tuing)”
itupun termasuk pengetahuan, pengetahuan mengenai karakter tulisan
saya. Hahaha… (ketawa Setan, bede’). Complain? silakan baca note
terdahulu saya di sini
http://www.facebook.com/note.php?note_id=417630011910 .
***
Sekitar 5 minggu yang lalu (tepatnya tanggal 13 September 2011), saya
membulatkan tekad untuk membuat sebuah novel. Tentang tanggal 13
September, hal ini tidak ada sangkut-pautnya dengan hari spesial
seseorang atau kelompok dan lembaga manapun. Mungkin itu hari kebangsaan
, hari nikah, ulang tahun dan sebagainya. Jadi kalau ada yang
menganggap dan mecocok-cocokkan (Bahasa kerennya, membaca pertanda) maka
saya yakin jawaban filosofisnya adalah BERHUBUNGAN, sebagaimana kepakan
sayap kupu-kupu di belahan lautan Australia yang bisa menjadikan
Gelombang Tsunami di Aceh. Dengan alasan bahwa Oksigen dan Nitrogen
dilapisan-lapisan atmosfer bumi merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan. Jadi semua berhubungan termasuk hal ini, tapi hubungan yang
ini merupakan hubungan yang jauh (Long Distance Relationship,

Nah beberapa minggu yang lalu, saya kehabisan ide untuk melanjutkan
novel saya. Serta kecenderungan cerita yang saya tulis sudah mengarah ke
inti cerita yang saya maksud. Jumlah halaman baru sekitar 30-an halaman
dan kupikir tidak cocok untuk menjadikannya sebuah novel. Makanya saya
mengubah format yang sebelumnya novel menjadi kumpulan cerita saja. Yah,
kurang lebih seperti Madre dan Filosofi Kopi nya Dee.
Dari sini saya menyimpulkan bahwa saya sedang mengalami problem
kualitas dalam menulis. Hal ini tersimpulkan karena Saya pernah menulis
sebuah novel yang Judulnya “Tapak kaki di Tapal Batas”. Angle
Ceritanya tentang perjalanan seorang pria miskin yang nekat ke Pulau
Sebatik untuk menemani wanita yang dicintainya mengabdi sebagai guru di
daerah perbatasan NKRI dengan Malaysia yang berakhir menjadi pria
tersebut kaya raya tetapi tidak bersama wanita yang dicintainya tadi
{Yah, jangankan ke Sebatik, Imajinasi saya pernah membuat tenda di
pinggiran sungai Mississipi sana (sebelum ada yang mempertanyakan
tentang pulau Sebatik)}. Saudari saya, Uni Munira Burhanuddin pernah
melakukan proses Editorial tentang novel ini (agar anda percaya bahwa
novel ini pernah benar-benar ada).
Kalau saya tidak
salah ingat, halaman novel ini sudah sekitar 60-an halaman di kertas A4
dengan margin standar. Tapi novel ini raib bersama raibnya laptop saya
hampir setahun yang lalu. Saya sering mencoba untuk menulis ulang novel
ini di PC adik saya, tapi saya selalu tidak merasa puas dengan tulisan
yang saya ramu di awal-awal ceritanya. Mungkin suatu saat nanti setelah
ada waktu sekitar 6 bulan di tempat sepi tapi bisa menarik inspirasi,
saya akan merampungkan Novel tersebut (Seperti Dee untuk merampungkan
Perahu Kertas nya).
Sampai sekarang saya masih
sering bertanya dalam hati, “kekuatan apa yang membuat saya waktu lupa
makan karena menulis sesampai di rumah? Kekuatan apa yang waktu itu
membuat saya lupa untuk melepas daypack dan jaket saya kemudian membuka
laptop dan mengetik berjam-jam dengan jaket dan daypack yang masih di
badan saya? Kekuatan apa yang bisa membuat saya seminar Proposal
kemudian bikin tilisan di FB dan di blog sampai 3 sehari dan novelku
juga bertambah halaman setiap harinya? Kalau dulu karena kekuatan dari
seorang wanita yang bernama Meyda Sefira, Saya sempat dekat dengan Leona
Agustine, dan Saat ini saya tengah dalam penjajakan mendapatkan cinta
Sulistiyowati. Jadi bisa disimpulkan bukan karena wanita. Hehehe…
(Ketawa Bijak).
Atau mungkin saya butuh golla-golla
dari teman-teman saya agar selalu semangat? Kalau memang begitu, adakah
yang siap dan siaga maggolla untukku setia harinya? Kalau ada, saya mau
digollai mulai hari ini. Sekarang. Hihihi… (ketawa licik).
Akhir kata, Saya yakin ada yang bisa #MembacaPertanda bahwa tulisan ini
merupakan tulisan Maggolla untuk Sulistiyowati (sebelum membaca
paragraph ini). Yang bisa saya ucapkan selamat, anda sudah bisa masuk di
kelas Ayat pertama Al-Qur’an : Iqra, yang artinya “Bacalah” (teks dan
non-teks, surat dan yang tersurat, Kitab Suci dan Alam-alamNya,
Semantik Hermeneutik dan Semiotik, tanda penanda dan pertanda).
TerUntuk Sulistiyowati: aku menunggu golla-golla mu, sedikit demi
sedikit, agar kelak aku merasa sedang menaklukkan sesuatu yang besar.
Agar aku tak merasa bosan untuk digollai, Agar aku merasa punya
perjalanan panjang untuk digollai olehmu. Meski begitu, aku mencintaimu
lebih dari golla-golla mu di tambah seluruh golla-golla yang ada di
dunia.
“Maggolla, bahasa Bugis Makassar Membuat gula
tapi bisa juga diartikan sebagai menggulai, memaniskan (membuat manis).
Sering di konotasikan sebagai bentuk menyanjung, Memanas-manasi,
mengompor-ngompori, dan sebagainya. Sumber : Kamus OVJ (Kamus yang
terbuat dari bahan lunak dan tidak berbahaya).
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih