Puisi biasa-biasa saja (Banyak dari sebelah)
Coretan dinding sebelaholeh Zulkifli Andi Mandasini pada 18 Juni 2010 jam 6:16
Di dinding seberang, seorang pemimpin perang sedang mengangkat bendera perang melawan kebiadaban. Aku mendengarnya dari balik jeruji industrialisasi dan tersangkarkan kasih sayang orang-tua serta terkuncikan cita-cita duniawi. Yang kulakukan hanya mencoret dinding :
jika ada debu yang terbang
di padang pasir yang gersang
dari kaki seekor kuda yang menjuntang
tertunggang empunya yang pantang,
Cukup itulah yang kau pecahkan
lalu berikan untuk kusimpan
yang nantinya akan kupersaksikan
hanya itu yang bisa kulakukan
dalam hati tak mampu ku aktualkan.
Jika ada sebuah panggilan,
maka jangan lupa untuk mengabarkan.
Hati ini seakan dipanaskan
oleh kibaran bendera tak kesudahan
beranikan jiwa yang sedang tertekan
dengan mengatakan "ini Panggilan Tuhan".
Dari coretan, siksaan terkabar
Gerak kawan kejauhan tergambar
Sedih di hati kian menyambar
Seperti darah yang tak lagi menyebar.
membaca coretan yang menggelagar
Semoga mereka dapat mendengar
agar jiwa tetap berkobar
dan bendera segera berkibar.
Melalui coretan, hati terbakar
Meski raga sedang tersangkar
Hanya munajad yang berkelakar
Agar Laknatullah segera terkapar.
_________________________
Wujudmu Merinduku
Surauku tak mengaung guraumu
Kamarku tak mengabar kabarmu
Terasku tak memaras parasmu
Rumputku tak serupa Rambutmu
Langitku tak melilit kulitmu
Tapi hatiku menanti hatimu
_________________________
Aktualisasi Empati Berwajah Do'a
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 04 Juni 2010 jam 19:48
Meski aku bukanlah tabib, do'a menjadi mantra afiatmu. Rangkul ini dalam bentuk perisai Do'a saja. Tapi bukan sekedar do'a, beriring kasih membawa riang penenang, berenergi rindu mendalam penghapus pilu, berbalut cinta mengepak sayap yang patah merangkai harapmu menyata.
Meski aku bukan abnormal, hati membaca rasa mu. Sejuta kodrat berbait indah. Tapi bukan berlebih, Kesederhanaan menampak kebersamaan, apa adanya beraktual sempurna, biasa terpraksis luar biasa, serta cinta bermanifestasi bahagia selalu dan selamanya.
Meski aku bukan ahli nujum, akal mensintesa sakitmu, mengatur nafas balas cintamu, menganalisis sakit di batang tubuhmu, menelaah ujung pangkal luka di jantung hatimu.
Makassar, when u'r body wasn't "delicious".
_____________________________
H.I.K.Z.
seikat Edelweis
sedang menangis
Bukan karena tak bertanah
tapi tanpa penerima amanah
____________________________
Hidup, itu saja
Belum cukup sekali bumi berevolusi pada matahari,
seperti sudah mengenalmu seabad ditambah beberapa hari.
Beban bertitik berat di dada kanan menyesakkan memekarkan gelisah.
Senang menyiramnya bertumbuh kuak rona
sakiti tepian hati oleh pangkal yang runcing
Sampai pupilku tak sanggup bersenggama dengan pembaringan
tanpa bentuk berwarna tak ber-ruang di megahku.
Pada kaki yang hendak melangkah menapak
seiring terbit terbenamnya juta warna yang buatku kaya,
tak ingin berpaling dan memanjangkan ruang kosong antara
Maju selangkah tak ingin mundur sejengkal.
Kau datang dan pergi lalu datang dan pergi lagi
Sampai darahku mengalir bergelombang kadang berhenti
mengalir lagi setelah ku bersujud dan kuteriakkan namamu
meskipun demikan kupastikan kau tak melihat pancarnya
karena bukan itu yang ingin kupersembahkan.
Ini relaksasi untuk bisa tetap menghelakkan nafas di akhir jalan.
__________________________________
Katakan, maka Harapan itu Masih Ada
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 31 Mei 2010 jam 12:47
Katakan bahwa kaupun mencitaiku,
maka akan ku kabarkan pada dunia
tentang kebahagiaanku atas terbalasnya cintaku.
Katakan bahwa kaupun menyayangiku,
maka akan ku ukir pada batu tentang mimpi,
angan dan harapan hidup bersamamu
selama sejuta tahun lamanya.
Katakan bahwa kaupun menyukaiku,
maka akan kusempatkan menjadi seorang pencinta
yang selalu mendoakanmu bersamaku
Katakan bahwa kaupun merindukanku,
maka akan ku ramu perjalanan hidupku bersamamu
kini kemudian hari dan hari kemudian.
___________________________________
Ke-Bening-an mu
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 31 Mei 2010 jam 12:42
dibalik beningmu,
aku tak mampu menyelami isi hatimu
bahkan tak mampu menyentuh kulitmu
yang ada hanya perasaan memilikimu.
di ke-bening-an mu,
hanya cahaya yang mampu mewakilimu
hanya mata yang dapat melukis indahmu
dan akal yang menjadi pencipta gerakmu
Tapi dibalik kebeninganmu,
tersimpan asa untuk tetap mengejarmu
terendap rasa untuk selalu mengikutimu
Terngiang Hati yang bening sebagai alasan mendapatkanmu
________________________________
Bilang “Kangen”
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 31 Mei 2010 jam 12:39
Jauh ini berbuah bintang
Mata hanya mampu memandang
Akal tak hentinya berbayang
Wajah yang tak asing ku kenang
Berwarna berbentuk tak ber-ruang
Jauh ini berbunga gelisah
Hatipun yang ikut resah
Tubuh hanya mampu mendesah
Pada tubuh lain yang sedang berpisah
Yang entah sedang senang atau susah
Jauh ini berladang rindu
Bercahayakan bahasa sendu
Indahnya Mencoba menjadi candu
Tapi tetap saja bukanlah madu
Harapku dan nyata tetap beradu
_______________________________
ada hanya sama dengan ada, ada tidak akan sama selain ada, maka harapan itu masih ada
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 23 Mei 2010 jam 11:37
Alhamdulillahi Wa syukrillah,
Atas Ruang dengan dimensiNya,
Atas waktu dengan denyut detakNya,
Atas akal dengan wahyuNya,
Atas Hati dengan QalbuNya,
Atas Kesehatan dengan AfiatNya,
Atas kesempatan dengan mencintaiNya
makhlukNya serta jagad raya dan segala isiNya.
Tak ada isi lain selain isiNya,
Maka sepatutnya ku besyukur
aku sungguh adalah Dia,
aku sungguh mencintai Dia,
cintaku yang mencintaiNya adalah CintaNya
cintaku yang mencintaiku adalah CintaNya
maka Dia mencintai cintaku.
kaupun pasti adalah Dia,
kaupun harus mencintai Dia,
cintamu yang mencintaiNya adalah cintaNya
cintamu yang mencintai dirimu adalah cintaNya
maka Dia mencintai cintamu.
aku mencintaimu,
dan itu cintaNya,
maka kau sepatutnya mencintaiNya
mencintai cintaNya
mencintai cintaku
dan mencintaiku.
maka harapan itu masih ada.
*harapan itu masih ada, frase yang dipopulerkan di bulu' Ramma' tahun 2005*
_____________________________
begitu Muliamu di Subjektifku
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 21 Mei 2010 jam 23:46
Ada perawat yang menebar senyum manis
'tuk menenangkan pasien sedang menangis.
Ada pegawai Bank yang menyapa ramah
dari balik meja panjang pada para nasabah.
Ada sekretaris perusahaan yang lihai dan seksi
menata dan merapikan semua administrasi.
Ada pramugari yang semampai dengan tenang
memberi informasi dasar keselamatan penumpang.
Dan Ada Aku yang sedikit gamblang dan Santai
memilih Udstadzah* yang mencetak orang Pandai
menjadi perawat, Banker, Sekretaris, & Pramugari
*berarti guru wanita
______________________________
ini nyata
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 15 Mei 2010 jam 0:35
Seperti nyata,
ketika melihat bayangmu
di langit-langit kamarku
tersenyum kagum
dan akupun membalas senyummu
lalu ku tutupi wajahku
dengan selimut
karena malu.
Seakan nyata,
memandangi foto profil mu
di layar laptopku
lalu bertanya "Cukup Tampankah wajah ku menurut mu'?"
dan kau berkata, "Sangat Tampan!"
Seolah nyata,
mimpi-mimpi ku
ketika kau hadir dengan wangi mu
dan ku helakkan nafas
sambil memejamkan mataku.
Ingin Nyata,
menjaga pagiku
lalu membuatkanku
Segelas teh hangat
yang manis sepertimu
Hendak nyata,
memeluk tubuhmu
dan mencium bibirmu
sampai kita tertidur
dalam lautan mimpi
Sudi Nyata,
mengucap kata terakhir
dan bersimpuh bahagia bersamamu
serta menghirup udara terakhir
di sandaran mu.
Hasrat kata,
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
adalah Nyata.
di sepi Himatepa UH, 14 Mei 2010
________________________________
Maruki' ***
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 21 Mei 2010 jam 3:05
Tidaklah sekedar curahan,
yang jadi penenang
di tengah kegundahan
dan senang di ujung kemenangan.
Bukanlah sekedar penyaluran Hobi
melawan depresi sampai fasih.
Tapi lebih pada bentukan peradaban
stimulan pencerahan.
Bukan hanya bakat,
menjadi alasan berbuat
tak sesaat,
sampai akhir hayat.
Tidaklah karena minat
yang hadir pada penat
tak menyentuh kodrat.
Tapi harus kita
yang betujuan
menuju keridhoan Tuhan!
***Bahasa Bugis yang berarti Menulis
_________________________
True Chess Player
oleh Zulkifli Andi Mandasini pada 05 Maret 2010 jam 1:29
punya beberapa tangan sebagai penggerak, menghakimi, dan membunuh anak catur. Dia bukan lawan bahkan tak terlawankan karena Dia sedang bermain sendiri. Kita adalah anak caturNya. Entah kita berawal dari putih atau berawal dari hitam yang akan berakhir hitam atau putih. Tak ada derajat, karena yang menggerakkan rajapun adalah Dia. Pemberi jalan berkelok dan bercabang, sampai kadang mereka lupa bahwa mereka digerakkan oleh Si Penggerak, mempermainkan waktu, menjadikan kita umpan untuk mengelabui yang lain atau menjadikan yang lain umpan untuk mengelabui kita.memberikan angin segar dengan lindungan pionnya, membuatkan masalah dengan menjadi ujung tombak menjaga yang lain.
0 comments:
Post a Comment
sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih