Breaking News
Loading...
Friday, 4 June 2010

Ngotot, Ngurat, Tanpa Otak

Prosesi “Mappasilaga Tedong” saja Kalah!

Mungkin, kalau keadaan sebelumnya baik-baik saja, saya tidak menerima ajakan teman untuk menonton. Tapi se-jam sebelumnya, saya mendengar berita penundaan seminar untukku. Yah, dari-pada stress memikirkan hal itu, mending saya ikut ajakan temanku. Minimal saya melupakannya sampai berhenti menyaksikan laga perang Antar fakultas {tawuran "mahasiswa" Fakultas Teknik (FT) Vs Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) tanggal 25 Mei 2010} itu.

Seperti F4 saja, berempat berjalan di koridor menuju tkp dengan model berbanjar. Di jalan menuju Perpustakaan kulihat darah berceceran di jalan menuju TBM (Tim Bantuan Medis). Dalam pikiran Cuma “Kayaknya seru ini!”. Sampai di sana memang tak seperti yang ku bayangkan, sekitar dua ribu mahasiswa Fakultas Teknik berkumpul seperti yang ada di film “Kingdom Of Heaven” sementara di ujung sana (Pasukan Fisip) tidak terlihat karena kerumunan mahasiswa FT, yang pasti banyak juga. Mungkin setiap 2 menitnya, ada saja yang di larikan ke TBM. Sementara batu-bata, pecahan genteng dan pecahan kaca, bertaburan di lapangan itu. Aku sangat menikmatinya.
Sungguh menakjubkan, “Sund*la’, Telas*, Kabulamm*’, melayang-layang bersama melayangnya batu ke udara. Sangat mengasyikkan. Jauh lebih seru dari ritual “mappasilaga tedong” yang pernah saya saksikan langsung di kabupaten Tana Toraja. Kadang-kadang kasihan juga pada mereka yang berdarah karena kepala bocor, dan bibir pecah (bukan akibat kekurangan asam askorbat atau vitamin C).
“wey daeng, le’ba’-le’ba’ mi injo si ba’ji, singkamma ni cini’ mahasiswayya”

Mungkin bukan hanya saya yang pernah mendengar beberapa perusahaan (swasta bahkan BUMN) tidak ingin menerima karyawan yang ber-ijazah Unhas. Mereka (perusahaan) mengalami krisis kepercayaan atau memang mereka “jengkel” dengan trend yang tak pernah luntur itu.
Saya bosan dengan ocehan mereka (masyarakat Intelektual sampai masyarakat awam termasuk tukang becak), “Mereka mahasiswa atau preman sih?”, atau “wey daeng, le’ba’-le’ba’ mi injo si ba’ji, singkamma ni cini’ mahasiswayya {Hai Daeng (tukang becak) jangan berkelahi! seperti mahasiswa saja suka tawuran}”. Frase pertama, mereka bingung dengan membedakan antara mahasiswa dengan preman. Sementara frase ke-dua, sudah terpatok di kepala mereka bahwasanya yang suka berkelahi adalah mahasiswa.

“Kita sedang belajar tentang Gravitasi”, “Salah-satu aplikasi Politik Pertahanan dan Keamanan”, “Praksis Manajemen Perencanaan Strategis (MPS) serta Strategi dan Taktik (STRATAK)” merupakan frase yang mereka (pelaku tawuran) katakan sebagai bentuk nge-les agar tawuran itu dianggap sebagai hal yang ilmiah.

Makassar, Rekonsiliasi Kota Objek Wisata Tawuran

Beberapa jam setelah perang batu dan pecahan kaca itu, Kakak saya menulis status di Facebook di ikuti beberapa temannya se-Alumni FKH UGM, bentuk kekecewaan mereka terhadap mahasiswa yang tawuran itu. Saya masuk berkomentar dengan menulis “Pernah menyaksikan langsung Tawuran antar mahasiswa dengan jumlah 3000 lebih peserta tawuran? Datang dan saksikan sendiri, hanya di Unhas Makassar. Kontribusi Gratis. Nb : Jangan lupa pakai helm yah! (iklan motor, red)”. Namun tidak ada satupun dari mereka yang me-recomment tulisan tersebut. Apa karena mereka sedang berpikir yah?

Sebenarnya Saya teringat pada saat mengikuti “ONE DAY TECHNOPRENEURSHIP”, seminar tentang wirausaha berbasis teknologi. Saat itu, saya tertarik untuk mengikuti Seminar tersebut, karena dua materi terakhir yang kuanggap menarik yaitu “Strategi Pemasaran” dan “Financing”. Yang pertama tentang ide pemasaran yang inovatif, dan yang kedua prosedur mengkredit bagi mahasiswa dengan bunga ringan oleh salah satu bank swasta. Pada materi finance, sepertinya yang menjadi peserta hanya saya. Karena materi terakhir dan waktu sudah molor dari jadwal penutupan. Sesi diskusi (Tanya-jawab) hanya satu penanya saja. Beruntungnya, sekitar 200 peserta, sayalah yang menjadi penanya tersebut. Saya merasa sedang konser pada saat itu. Pada materi Manajemen Pemasaran, gila, saya hanya terkagum-kagum dan serasa langsung ingin keluar dari tempat seminar itu dan merombak model pemasaran usaha saya. Pematerinya, seorang dosen cantik dari fakultas Ekonomi Unhas, Namanya Ibu Dr. Indrianty Sudirman, MS.

Satu hal yang berhubungan dengan tulisan ini adalah pada saat beliau menceritakan kejadian di mana beliau kedatangan tamu dari Jakarta sementara di Pintu I Unhas sedang terjadi aksi bakar ban. Kata beliau, tamunya tersebut takut untuk melewati jalur Jalan Perintis Kemerdekaan. Tapi karena Beliau berani bertanggung-jawab kalau terjadi apa-apa, maka tamunya tersebutpun berani untuk melewati jalur it. Kata beliau, tamunya tersebut takut kalau saja terjadi bentrok antar mahasiswa dan polisi sampai ada aksi lempar-lempar batu. Tamu tersebut berkata bahwa beginilah karakter mahasiswa Unhas khususnya, dan mahasiswa Makassar pada umumnya di mana aksi demonstrasi, batu pun menjadi instrument pentingnya (saya tertawa terbahak-bahak membayangkan hal itu).

Sampai saya berpikir, bagaimana kalau Makassar direkonsiliasi menjadi Objek Wisata Kota Aksi Demonstrasi Anarkis dan Objek Wisata Tawuran saja. Hitung-hitung mengubah paradigma Investor luar untuk tidak takut melakukan dinamisasi ekonomi di Kota Makassar. Dan memang kalau saya pikir-pikir, ini adalah Dimensi Lokalitas Makassar (Bukan sebuah Kearifan Lokal). Tidak terjadi di kampus-kampus kota lain di Indonesia. Kalaupun ada, itu hanya bentuk plagiat dan ikut-ikutan segala. Jadi siapapun yang ingin menyaksikan langsung deskripsi perang zaman PecahLitikum (Batu Pecah), maka datanglah di Unhas Pasca penerimaan mahasiswa baru atau pasca inaugurasi mahasiswa Fakultas. Sekali lagi “Jangan Lupa pakai Helm yah”.

Sejak dan Sampai kapan?
Menurut para pendahulu, Tawuran mahasiswa menjamur di kampus Unhas jauh sebelum saya bermahasiswa. Saya bukanlah Ki Joko Bodoh atau Almarhumah Mama Laurent yang dikenal sebagai paranormal. Saya hanya orang biasa yang suka menulis, meski dibaca sebelah mata dan sebelah akal, yang penting menulis. Aku hanya ingin berpuisi yang tak indah untuk menjawab sub ini :

selama masih arogansi dijunjung tinggi,
jangan berharap adab ini terganti.
Selama masih kepentingan politik birokrasi tidak sehat,
jangan harap perang-perang seperti ini akan terbabat.
Selama masih diabaikannya sebuah konsolidasi,
jangan harap bahasa-bahasa tawuran akan basi.
Selama masih ada dogma-dogma provokasi,
jangan harap ada harmonisasi.
Selama masih ada mahasiswa yang suka terpancing
Menjadi besarkan hal-hal yang sebenarnya kecil,
jangan harap tidak ada cerita Anjing versus Kucing
Serta cerita Buaya versus kancil.

***

Sekali lagi, saya hanya orang biasa yang bersimpuh tanda tunduk terhadapNya. Yang juga mengharap taufiq dari DzatNya yang Agung.

Untuk di renungkan bersama

Tidak kah kita berpikir bahwa yang ada di sana juga manusia dan bukan binatang, kalaupun binatang, apa alasan kita melempar binatang itu? Akan ada sensasi yang berbeda ketika kita membuat kepalanya berdarah, tapi bisakah kita membayangkan sensasinya ketika bibir kitalah yang sumbing dan akan mengingatnya sampai kita terpanggil menghadapNya? Tidakkah kita berpikir bahwa kita hanya dijadikan sebagai tontonan dan tertawaan, kemudian orang-orang akan menyebut kita sebagai orang yang tak pantas menyandang sebuah peran Pembaharu, panutan, dan pengontrol? Unhas bukan surga yang akan menjadi tempat kita salamanya. Tidak selesai pada akhirnya, kita akan di usir. Tidak kah ada cara lain untuk mengharumkan tanah kelahiran kita? Dia (Senior) bukanlah tuhan, yang apapun yang dikatakannya adalah benar. Mereka (junior) bukanlah deretan binatang yang tidak punya potensi untuk bisa lebih dari sekedar kita yang hanya mampu memanas-manasi lalu pergi dan datang sebagai pahlawan pada akhirnya seperti polisi dalam film-film India.

***I Love My Almamater***

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih