Breaking News
Loading...
Tuesday, 8 June 2010

Gondrong Kriting Berkaca-mata

Tidak begitu kunikmati secangkir kopi panas di siang itu. Tiba-tiba saja seorang teman saya memintaku untuk menemui seorang Gondrong Kriting dan berkaca-mata, dan katanya ini penting. Kutitip kopi panas tadi pada “mace” dan bergegas menemuinya di depan sebuah kelas tempat saya dan teman-teman sering menghabiskan waktu untuk bercerita dan mengerjakan tugas bersama sebelum atau setelah kuliah.

Di pikirku terlintas banyak pertanyaan. Dia membutuhkan saya, atau ada sesuatu yang ingin dia beri. Tanggung-jawab atau sebuah hadiah. Hadiahnya bisa saja sebuah tendangan atau hadiah yang kita pahami bersama. Saya tahu persis dia. Saya mengenalnya saat pertama di hari ke-dua “Opspek”, di mana dialah yang menyuruh saya untuk memanjat sebuah Pohon Ki Hujan yang besar batangnya sekitar 4 kali besar badan saya. “Saya Phobia ketinggian kak”, kata yang membuat dia berpikir untuk menyuruhku memanjat pohon itu. Katanya saya harus latihan untuk tidak phobia ketinggian lagi.

Sebelum sampai di depan kelas itu, dari kejauhan ku lihat dia sedang tersenyum, yang membuat saya menyimpulkan bahwa keadaan baik-baik saja. “Kenapa kak?”, saya bertanya setelah mendekat dengannya.

"Kifli Tekpert 04", bagi saya (saat itu) hal yang kreatif. Menggunakan Tip-Ex, menulis tepat di pintu kelas itu. Sebenarnya tulisannya tidak begitu besar, tapi karena tulisan itu adalah tulisan satu-satunya, dan warna putih yang menempel pada pintu yang berwarna gelap (cokelat) maka tulisan tersebut sangat jelas memang.  Tapi yang membuat saya heran, dia yang ku kenal acuh, meminta saya untuk menghapus tulisan itu.

“ditulis lagi tekpertnya, nanti orang berpikir anak tekpert memang selalu tulis-tulis begitu. Kan tidak bae’. Kalau mau menulis begitu, ada baiknya di kertas. Kalau begini kan kelihatan kotor”. Kurang lebih seperti itu dia katakan.Sangat masuk akal saat itu, aku mengambil batu dan menghapusnya. Tulisan tersebut saya serut dengan batu, kalau masih tersisa yang kecil saya menggunakan kuku sampai bersih betul.  

five years later (lima tahun kemudian)

Saya mengikuti rapat (Mustalub) di lecture theatre VI (LT VI) di kampus. Sungguh terkejut, setelah beberapa tahun tidak memasuki ruangan itu, saya melihat perubahan yang sangat berbeda, warna meja dan kursi tidak lagi berwarna kuning bersih tapi sudah dipenuhi tulisan-tulisan menggunakan pulpen, spidol, dan tipp-X. Dan memang simageaya melihatnya begitu tidak estetis tapi malah menjadi hal negatif. Bergegas aku mengambil kertas dan dan pulpen dan menulis, “JANGAN MENULIS-NULIS DI MEJA ATAU KURSI. BIKIN KOTOR SAJA. KALAU MAU JADI PENULIS ATAU GRAFITER, TIDAK DI SITU TEMPATNYA. TIDAK BAE’ DILIAT. KALAU ADA YANG KEBERATAN, ADA JA’ DI TEKPERT. BY : KIFLI TEKPERT 04. (Ciri-ciri, agak gondrong, agak kriting, tidak pake’ kacamata)”, dan menempelnya di dinding belakang dengan selotip yang tidak merusak cat dinding.

Mudah-mudahan pesannya tersampaikan pada anda! Terima Kasih.

 

Inspired By : Kanda Rahmatullah Amir.

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih