Breaking News
Loading...
Friday, 18 June 2010

Fachri, dari Mazhab Cinta ke Mazhab Pujangga

Jauh sebelum Siluet raganya belum ternampakkan oleh matahari. Ia terjaga untuk bersuci seperti para filsuf dan ahli kalam yang merasa jauh dari Pembuka pintu untuk memohon kasih Meski sebenarnya Sang Terkasih lebih dekat di urat lehernya. Seketika wajah gelap menjadi titik cahaya di buta malam setelah basuhan pangkal atas wajah berakhir di Janggut tipisnya.

Dipenghujung ketertundukannya, sujud menunduk berserah mata tertutup sesekali air mata menelaga ke pipi tak dihapusnya seperti Si hina yang merasa malu akan bau yang melekatinya dan takut pada api di persimpangan sebelum akhir jalanNya. Ia menghentikan tetesan air mata dikesadaran akan kemurahanNya.

Sembari di atas sajadah, sebuah kitab kumpulan majelis Imam yang sarat praksis cinta dibacanya. Menunduk untuk membaca dan menengadah untuk membayang nyata. Mencari pengalaman atas praksis cinta yang teraktualnya. Menunduk lagi untuk membaca, kali ini untuk waktu yang mendekatinya.


Download video clip Debu Mazhab Cinta (The Path of Love)

Tak seperti kesempatan dan afiat sebelumnya. Kali ini ada pena yang digenggam lembut sebagai sarapan disinggasana terendah sang surya menguapkan embun jernih di tepian daun hijau nan melebarkan pucuk. Mengusap nafas pertanda memulai menuang putihnya kertas menjadi ruang deretan prasa indah bermandikan madu tersiramkan susu di taman dengan wewangian alami bunga dengan kenampakan sejuta spektrum warna.  Di setiap kata tersiram sarat makna yang membuat-luaskan lautan ilmu dengan seduhan mata air cinta di pesisir di hulu sungainya.

Begitu secarik kertas diterbangkan angin, tak kuragukan kesucian makna oleh cuil debu yang melekati. Sayapnya mengepak tampak mengenaliku. Kemudian menghentikan kepakannya dan perlahan turun  dari kecongkakan terkalahkan kasih sayang.

0 comments:

Post a Comment

sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
Terima Kasih