Breaking News
Loading...
Friday, 4 June 2010

Cara Lainku memperkenalkan diri (kenal Zulkifli dari dekat) Seri I

Berat Empat koma dua kilogram, alasan yang cukup masuk akal ketika ibuku berkata bahwa akulah di antara anak-anaknya yang paling menyusahkan di lima kali proses persalinannya. Yah, lahir dengan status “Bayi Sehat” dengan persalinan normal memang sangat merepotkan si pemilik kandungan. Akupun bisa membayangkan hal itu. Aku lahir sebagai anak ke-dua setelah Ayahku untuk pertama kalinya berstatus “Bapak” dua tahun sebelum lahirku Beliau menggendong Puteri Sulungnya dengan berat Awal Dua koma enam kilogram (jangan menunggu berat akhir/berat setelah proses pengeringan karena aku tidak sedang akan menghitung Jumlah Kadar Air yang terkandug dalam kakakku).
Puteri Sulung Orang tuaku Sebenarnya bukanlah kakakku, dia adalah adikku. Akan tetapi saya seorang yang sedikit hebat dalam bermain Bulu tangkis dan sepak-bola serta sangat suka mencoba hal-hal yang orang lain tidak berani mencobanya, beberapa sperma Ayahku kutendang dan kutangkis lalu kuarahkan ke Sel telur adikku tersebut. Adikku menangis dengan kelakuanku yang curang kepadanya, tapi aku mencoba menghentikan tangisnya dengan berkata “suatu saat kamu akan menjadi seorang Menteri, tepatnya Menteri Sosial. Selain itu Aku akan memanggilmu dengan panggilan Mbak”. Iya kemudian bertanya “kalau kamu jadi apa?”, kujawab “Oww, kalau aku hanya menjadi seorang Pengusaha dan Cuma menjadi Calon Ketua Partai besar tapi kalah oleh pengusaha juga”. Diapun mengganti model mulut tangis menjadi senyum seketika. Dalam hatiku berkata “dasar anak kecil”.

0902.10b Lama kelamaan, adikku pun bertumbuh menjadi besar. Kulihat wajahnya, ternyata dia tidak cukup rupawan dibanding dengan wajahku. Dia hanya mirip dengan Desi Ratnasari dan Poppy Mercury (teman friendsterku). Sampai akhirnya perkembangannya sudah sempurna, diapun siap untuk dilahirkan. Sebelum dilahirkan, aku berkata kepadanya ”Adikku, aku sayang padamu. Aku akan sangat sedih karena sepiku”. Diapun berkata seperti itu. “Lahirlah adikku, Nenek kita sudah tak tahan ingin menggendongmu. Kamu Bisa adikku! Oh, iyya, jangan lupa untuk menelfonku untuk menanyakan kabarmu”.
Setelah adikku lahir duluan, akupun berhenti memanggilnya adik lagi aku mencoba membiasakan diri untuk memanggilnya Mbak melalui Via Telepon. Tidak cukup sehari setelah dia lahir, aku mendapat teman main baru. Mantap, dia seorang Laki-laki, persis sepertiku. Kejadian yang samapun ku ulangi, menangkis dan menendang Sperma Ayahku. Tapi aku kaget, Tendangan Pisangku dibalasnya dengan tendangan Spekulasi, Smash ku dibalas dengan tangkisan dari belakang dan diantara dua betisnya.
Sedang asyik-asyiknya saling tangkis menendang Sperma, Black-Berry ku berbunyi (Ring Tone ku pada saat itu adalah lagu Mansyur S. yang berjudul Rembulan Bersinar Lagi) kulihat, ternyata dari kakakku.
Percakapanku :


    Aku : Halo?? Kabar Mbak bagaimana?? Telepon aku pakai apa??
    Kakakku : Iya Baik, aku Pakai I-Phone ku lah, masa Telepon tetangga?? Oh, iyya kemarin Aku baru saja di Aqikah.
    Aku : Iyakah, Selamat yah! Hmmm, pasti nama Mbak, Siti Hardiyanti Rukmana. iya kan?
    Kakakku : Akh, bukan. Bukan itu, namaku Fitriana Mandasini. Karena aku lahir sehari sebelum Idul Fitri.
    Aku : Masa Sih?? Ayah kita namanya Soeharto kan?? Beliau Presiden RI! Ibu kita adalah Ibu Tien, beliau Ibu Negara. Iya toh??
    Kakakku : yeee, sama sekali salah. Ayah kita Namanya Andi Mandasini seorang Kepala Dusun, bekerja sebagai Supir mobil dan distributor bahan baku pangan ke Ujung Pandang. Ibu kita namanya Mulyana salah satu Ibu penggerak PKK desa ini.
    AKu : Pasti Mbak salah deh. Mbak, di mana?? Bukan Jalan Cendana yah?? (Masih tidak percaya).
    Kakakku : yah Bukanlah, masa yah bukansih?? Mulan aja Jamilah, bukan Mulan Mirasih! Sekarang saya di Dusun Rea Timur, Desa Amassangang, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polmas, Provinsi Sulawesi Selatan (Sekarang terjadi pemekaran, Dusun Rea Timur Menjadi Desa, Kecamatan juga mekar menjadi Kecamatan Binuang, Kabupaten menjadi Polewali Mandar, Provinsi pun menjadi Sulawesi Barat) , Negara Kesatuan Republik Indonesia, Benua Asia, Planet Bumi.
    Aku : akh Mbak lebay deh!
    Kakakku : Swear, dua minggu berturut-turut di sambar gledek kalau Aku Bohong.


Aku langsung menutup telepon dan segera membuka Loker yang berisi berkas-berkas pentingku. Aku memeriksa satu-persatu berkas-berkas tersebut sampai ku dapatkan SKDN ku. SKDN itu adalah singkatan dari SURAT KETENTUAN DUNIA NYATA yang ditanda Tangani Langsung oleh Kepala DepKetCipMan (Departemen Keteraturan Penciptaan Manusia). Dalam surat tersebut, namaku adalah Hoetomo Mandala Putra, Ayahku Soeharto, Ibuku Tien, Saudariku Siti Hardiyanti Rukmana, Saudaraku Bambang Triatmodjo. Nama Panggilanku Tommy. Dalam Surat tersebut, tertera alamat e-mail kantor tersebut.
Dengan segera aku e-mailing ke kantor tersebut untuk menanyakan kekeliruan ini. Tak lama kemudian, kantor tersebut merekonfirmasi pertanyaan ku.
Isi e-mail balasan tersebut seperti ini :
Kepada Yang Kami Hormati
Zulkifli Andi Mandasini
Di,
Kandungan
Hormat Kami, Sehubungan dengan Surat yang anda kirim kepada Departemen Keteraturan Penciptaan Manusia, maka kami selaku Official menjelaskan bahwa :

  • 1. Anda melakukan kesalahan dalam mengambil SURAT KETENTUAN DUNIA NYATA. Anda Seharusnya mengambilnya di Kantor Pos Kandungan, dan bukan di Gudang Penyimpanan Surat tidak berlaku. Gimana Seeh Low??
  • 2. Karena Anda melanggar Ketentuan, di mana Anda seharusnya adalah Anak Pertama tapi mengalihkannya pada adik Anda, maka kami mengubah Surat Ketentuan Anda menjadi Zulkifli Andi Mandasini Anak kedua dari Pasangan Mandasini dan Mulyana yang sebelumnya adalah Agus Harrymurti Yudhoyono Anak Pertama dari Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Any Yudhoyono. Naaakal Siiiiiihh!!!
    Demikian Surat Konfirmasi ini untuk dipergunakan untuk semestinya. Anda dapat mengambil SKDN baru anda di Kantor Pos terdekat, 14 hari kerja setelah anda menerima Surat ini. Terima Kasih, Daagh!
    Negeri Entah Berantah, 11 Desember 1983
    Auuuu’ achhhh Gelap
    Costumer Servicer
    Setelah membaca surat konfirmasi tersebut, aku langsung memukul Jidatku dengan tangan terbuka sambil menggeleng-gelengkan kepala sebagai bentuk penyesalanku. Tapi aku yakin suatu saat ada hal yang lebih baik ketika saya menjadi seorang Zulkifli Andi Mandasini, pikirku saat itu. Tendang menangkis Sperma tidak lagi kulakukan mulai 11 Desember 1983. Aku tidak suka larut dalam penyesalanku, dan terkondisikan saat itu Mangkok yang berbunyi karena terjadi gesekan dengan Sendok besi yang berarti ada Penjual Bakso lewat.
    “Mas,mas”. Aku menghampiri penjual Bakso tersebut dan berkata “Mie Bakso Tennes, Kecap Sedikit, Saos Lomboknya Banyak, Bawang goreng banyak, Pakai jeruk nipis” sambil memberi uang dua puluh lima rupiah kepada penjual bakso tersebut. Hmmmm…Ajieep!!
    Serasa cukup singkat bersenda gurau dengan adikku, mulai dari bermain kelereng sampai bermain ChessBoxing (bermain catur dan saling baku tinju setelahnya). Tak sadar aku sudah cukup besar di dalam kandungan. Ku lihat kelender masehi (ada juga kalender Hijriah) kulihat sudah tanggal 11 Juli 1986 yang berarti aku sudah berumur 8 bulan dalam kandungan. Aku bergegas bercermin yang melekat di dinding Rahim ibuku. Kalau ku ingat, akupun cemburu melihat wajah tampanku pada saat kecilku (bayangkan, dengan wajah tampanku sekarang, masih cemburu dengan wajahku di kandungan). Betapa Tampannya aku waktu itu.
    Dari balik dinding rahim ibuku, aku mencoba mendengar percakapan antara Ayah dengan Ibuku. “Andi’, Aku tidak ingin kalau anak kedua kita lahir di Polewali juga seperti Kakaknya” Kata Ayahku kepada ibuku sambil memegang Janggutnya yang lebat. “Kenapa Daeng?” Tanya ibuku sambil mengerutkan keningnya yang ada tanda baca (?) di tengahnya. Langsung saja Ayahku menjawab “yah, biar Gaul begitu. Kan bagus juga kalau di Akte Kelahiran anak kita tertulis Telah Lahir dengan selamat Zulkifli Andi Mandasini di manakah, yang penting Elite sedikit gitu Loh!”. Otak Ibukupun Encer seketika lalu berkata “Owwww, Okelah kalau begitu. By the Way, bagaimana kalau di Abudhabi saja Daeng?”. Sedikit eSTe’ Ayahku langsung berkata “Akh, jangan di Indialah! Eropa dong”. “Wuuu, Daeng, Abu dhabi itu bukan di India, tapi Itu ibu kota Negara Dubai”. Ayahku mencoba nge-les dengan berkata “iya tapi dekat India kan? Pokoknya Aku maunya di Paris Perancis”. “Akh, Daeng, jangan dong, negara itukan Negara Free Sex, bagaimana kalau anak kita ketularan?” tandas ibuku. “yah jangan Sampailah!” Lama berpikir, ayahku kembali memberi opsi, “bagaimana kalau di Amsterdam saja?” Mendengar perkataan ayahku, ibuku langsung teriak “tidaaak”, karena kerasnya sampai sayapun terkaget-kaget dari balik dinding rahim karenanya. “Itu Negara yang menjajah Indonesia” (itulah makanya Aku selalu ingat Negara yang menjajah Indonesia adalah Negara AMSTERDAM(yakin)). “Hmmmm, bagaimana kalau London?” Papar Ayahku sambil menunjuk Ibuku sebagai tanda bahwa ibu sepakat dengan London. “Yap, ide yang cemerlang Daeng, Aku sepakat kalau London”. Dari dalam perut, aku juga teriak “sepakat”. “sepakat appa?” kata adikku sinis sambil makan Pisang Ambon kesukaannya yang tidak mendengarkan percakapan Ayah dengan ibuku. “Makanya, Punya Telinga dong” kataku tersenyum sombong karena sudah punya daun telinga, walaupun baru sebelah.
    Saat itu aku semakin tak sabar untuk menghirup Udara secara langsung. Apalagi aku ingin membedakan udara yang ada di Inggris dengan Udara yang ada di Indonesia. Meskipun aku tak sekalipun pernah menghirup udara Indonesia. Sesekali aku mendengar planning Kedua orang tuaku menuju London. “Bagaimana dengan anak kita? Kita Bawa juga tidak yah?” tanya Ibuku. “akh, Bikin susah saja kalau kita bawa dia. Kita titip saja di Neneknya” Ayahku bilang.
    Tanggal 11 Agustus 1986, tepat Sembilan bulan aku dalam kandungan dan hari di mana Ayah dan Ibuku menuju ke London. “Celemek dan Pakaian Bayi lainnya ada?” Tanya Ayahku. “Sudah ada dalam koper” jawab ibuku sambil ikut memikirkan sesuatu yang kemungkinan akan dilupakan. “Pakaian kita berdua??” Tanya ayahku lagi. “Ada di koper ke dua”. “Handy Cam? Sudah di cass?” Tanya Ayahku sambil mengangkat kedua koper menuju mobil. “Full Cass” di koper kedua” sambil ikut dari belakang Ayahku. “Kalau begitu kita berangkat”. Dengan yakinnya Ayahku naik ke Mobil Datsun produksi tahun 1973 miliknya. Ibukupun naik di pintu sebelah kiri ayahku.
    Tiba-tiba saja Ayah ku memukul setir mobil “engka diallupai (Bahasa bugis yang artinya ada sesuatu yang kita lupa)!”. “Aga naro Daeng (apakah gerangan Daeng)?” “Kita belum mengurus PASSPORT”. “Hah???” Tapi Ayahku tetap menjalankan mobilnya menuju dinas Imigrasi di Polewali untuk mengurus Passport tersebut. Namun sayang, passport tersebut bisa selesai setelah 14 hari kerja terhitung sejak hari awal pengurusan. Terpaksa kedua orang tuaku mengurungkan Niatnya untuk melahirkanku di London Inggris. Sementara aku yang tidak tahu kejadian di atas sementara membayangkan kalau orang yang pertama ku lihat di dunia adalah Suster sexy Inggris yang berambut pirang, kulit putih, hidung mancung, dan bola mata biru. Dan aku akan tertawa setelah lahir karena melihatnya.
    Tanggal 21 Agustus 1986, aku lahir dan melihat sosok manusia dengan wajah pribumi bangat. Keiginanku tadi yang ingin tertawa berubah menjadi tangis luar biasa seperti tangis bayi-bayi pada umumnya.
    100 % tulisan di atas, bukanlah omong kosong tapi 80 % nya adalah imajinasi dan hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita, itu berarti aku lambat dalam mempublikasikan cerita ini. Nantikan Seri II yang tak kala serunya. Tetap berimajinasi karena imajinasi adalah sebuah peradaban. Tetap menulis karena kata dengan ucapan hanya akan terbag bersama angin.
  • 0 comments:

    Post a Comment

    sebaiknya pada saat memberi Komentar, menggunakan Nama Anda! Dimohon untuk tidak menggunakan anonim!
    Terima Kasih