FB untuk silaturrahmi yang tertunda jilid 2
RISAU
“Namun sayang, sayang….sayang, seribu kali sayang , ke manakah risauku kualamatkan”
Sebuah frase lagu melayu lama (jadul) yang kembali up 2 date di film “sang pemimpi” menjadi pengantar singkat curhatku. “Risau” grand issue yang begitu merisaukan. Kata yang seakan ingin memotong kakiku, melumpuhkan jalanku menuju jawaban yang akan ku genggam di depan pelupuk mataku yang gelap. Realita yang menyakitkan atau menyenangkang atau hanya bayang ilusi yang menjadi mimpi burukku yang sebelumnya menjadi mawar mekar di padang hijau mimpi indahku.
Patut ku syukuri adanya FB Seluler dalam konteks ini. Setelah agak lama absen di chat boxku, ku perhatikan Statusx sering ter-update. Ku tanya, Yolanda?? :HALAH: diapun menjelaskan bahwa dia sedang berada di kapal Boat menuju Nunukan dari Tarakan. Sebuah jawaban yang memenuhi tanda Tanya di kepalaku. Ke sana mendaftarkan diri mengaktualkan dirinya menjadi seorang “pengabdi” di sebuah pulau yang sangat kecil d perbatasan Indonesia Malaysia. Tapi masih milik Indonesia (meskipun si negeri maling memang pernah mencaplok sebagai bagian dari negaranya). Sebatik, Pulau terluar Pulau Nunukan Kalimantan Timur. “Cinta di hati terkubur lagi”??
Perang komentar Status, formulasi baru proses pedekate-ku yang baru, dan memang “fastly” dan sangat ku nikmati, beberapa komentarnya memang (subjektifku) mengarah dari sekedar teman FB (hayhay). Status Fesbuknya ku preteli dengan sedikit lawakan dan Imajinasi, begitupun sebaliknya. Sampai suatu saat di pagi buta, “Absen subuh di Fesbuk” ku toreh untuk statusku. Beberapa temanku mengomentarinya dengan menulis “hadir, Pak”. Kemudian dia muncul dengan pertanyaan “ternyata ada juga absensi di FB?”, ku jawab: iya, pantesan Absennya bolong-bolong. Berlanjut sampai dia berkomentar bahwa imajinasiku bagus, dan menyarankan untuk menjadi seorang penulis atau apalah yang berhubungan dengan itu.
Hmmm, sedikit bangga. Tapi tidak hanya sampai di situ, “hahay,,,jadi malu. Btw, kalau tidak salah, sebulan lalu, ku tulis status fesbukku seperti ini : bersamaan dengan ini, kuputuskan untuk menjadi penulis novel, terinspirasi setelah baca “Negeri 5 Menara” dan “The Host” (sok Up 2 date). Ohh, 1 more : Proses perkenalan kita (aku dan dia) yang ku anggap beda, ku tulis dalam sebuah cerita (FB untuk silaturrahmi yang tertunda)”, Jawabku membuatnya salut dan penasaran untuk tahu alamat blogku.
Intimnya Perang komentar Status, tidak begitu sinkron dengan keadaan yang tergariskan olehNya. Dia lolos menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pinggiran negeri Sultan Fachri itu yang mengartikan bahwa dia akan menjadi seorang penduduk tetap pulau kecil itu. Untuk saat ini, aku belum tahu tapak kakikua akan ku langkahkan. Pun ketika aku harus ikut arusnya, proses dekonstruksi cita-cita menjadi program pertamaku. Mampukah?
Doni (Christian Sugiono) pernah berkomentar sambil bertanya pada Olif (Rizki Hanggono) : “Lif, Cowo’ tuw, ngejar cewe’, mendaki gunung tertinggi dan mengarungi samudera yang dalam, Loe ke mana Adjah Lif? Loe ga’ ke mana-mana!!!” Kalau pertanyaan itu di tujukan padaku maka akan ku jawab : Gw ga’ ‘kan ke mana-mana Don, karena cintaku di sini menjangkau “mana-mana” loe!
ohh...ada blogmu....
ReplyDeletebaru tauuu'!
hmmmm...
-AV-
dr mana ko sist??
ReplyDelete